Ikyul Inside

me and what inside my heart and mind

Waiting List

Aku kembali bertemu bapak itu di depan poli bedah tumor, wajahnya terlihat sedih namun pasrah. Istrinya hanya terdiam sambil memangku anak lelakinya yang berumur 5 tahun. “ Hasilnya bagaimana pak? Kepastian operasinya kapan? “ tanyaku. “ Saya masuk dalam daftar tunggu dik, pihak RS akan memberi kabar jika giliran saya sudah tiba “ jawab bapak itu pelan sambil memandang saya. Upfhh… saya menghela nafas pelan dan membuang pandangan ke lantai, rasanya tak sanggup menatap mata bapak itu.

Bapak itu datang ke kota ini atas rujukan RS daerah. Benjolan di kepalanya perlu di operasi, dan itu tak bisa di lakukan di RS daerah tempat tinggalnya. Bermodal kartu keterangan tak mampu, bapak itu datang ke kota ini, dengan harapan bisa di operasi secara gratis seperti komitmen pemerintah bahwa GAKIN bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Kurang lebih 4 minggu bapak itu bolak balik RS ini, pemeriksaan oleh dokter, pengambilan sampel darah, dan foto rontgen bahkan sudah di lakukan. Besar harapannya bisa di operasi minggu ini, tapi semua pupus sudah hari ini. Bapak itu akan kembali ke desa tempat tinggalnya dengan membawa benjolan sekepal tangan di ubun-ubunnya.

Sejak awak di kumandangkannya pengobatan gratis bagi rakyat miskin, aku sadar itu hanya mimpi. Coba saja kalau ada waktu, jalan-jalan ke RS, iseng-iseng tanya bagaimana pelayanan kesehatan untuk GAKIN, mereka akan berkata “semua gratis”, hanya saja kalau ada obat yang di resepkan tidak masuk daftar askes, otomatis pasien harus mengeluarkan kocek untuk membelinya. Sama saja kan? Tidak ada yang gratis. Syukur-syukur si pasien bisa langsung di beri tindakan, lha kalau masuk dalam daftar tunggu bagaimana? Memang benar pasien-pasien yang masuk dalam daftar tunggu adalah pasien yang nyawanya tidak terancam, tapi dari segi moral rasanya tak pantas kita membiarkan seorang manusia menahan rasa nyeri dan tidak enak di salah satu anggota tubuhnya, entah sampai kapan bisa di beri tindakan selanjutnya.

Sudah saatnya pemerintah harus bersikap jujur, dan masyarakat kita juga harus berusaha menerima kejujuran itu, meski rasanya pahit. Tidak bisa di pungkiri, pelayanan kesehatan butuh profit, tidak etis memang, bagaimana mungkin mengambil profit dari hidup dan mati seseorang? Tapi itulah yang terjadi, realistis sajalah. RS tidak akan berjalan dengan baik tanpa profit dari pelayanannya. Namun yang masyarakat minta adalah, pemerintahan yang bersih, kalau di APBN dana yang di alokasikan untuk kesehatan sekian, ya harus seluruhnya di pergunakan untuk itu, tanpa kebocoran di mana-mana. Dan juga keuntungan dari sektor swasta yang pemerintah rangkul untuk pelayanan kesehatan, benar-benar di berikan untuk rakyat, jangan di pangkas sana sini.

Kalau berbicara masalah pemerintah tak akan ada habisnya, masalah ada di seluruh sektor, dan sudah terlalu banyak ahlinya untuk mengomentari semua itu. Saya hanya seorang awam yang terus terang awalnya tidak peka akan masalah ini, buat saya, kalo saya dan keluarga sehat, maka tak ada yang perlu di pusingkan. Namun kini saya menempatkan diri saya di posisi bapak itu, bagaimana jika saya yang mengalami hal itu? Ataukah keluarga saya, yang mengalami hal itu? Tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa? Dan satu pertanyaan krusial terlontar untuk nuraniku dan nurani anda “ apakah menurut anda seorang anak penyapu jalanan pantas mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama dengan seorang anak pengusaha kaya? “.

Filed under: Refresh your mind

“Pria Idaman Lain”

Terasa benar waktu 3 tahun yang kita lalui bersama. Banyak hal yang telah terlewati, rasa rindu kala tak bertemu, berbagi kebahagiaan, teman di saat duka, dan pertengkaran yang begitu sering terjadi antara kita di awal hubungan.

Mungkin sedikit menimbulkan tanya, awal hubungan kok di warnai pertengkaran, karena umumnya awal hubungan itu di warnai hal yang indah-indah. Namun untuk kita berdua sedikit berbeda, karena saat itu hubunganmu yang berlangsung selama kurang lebih 7 tahun baru saja berakhir, sehingga tak mudah buatku yang selalu merasa sebagai orang kedua di hatimu, karena aku tahu persis bagaimana rasa sayangmu untuk dia (sedikit banyaknya perasaanku saat itu mirip tulisanku di blog ini yang berjudul HTS).

Dan saat ini bertambah lagi cobaan untuk kita berdua, baru-baru ini penyakit yang kau derita baru terdeteksi, itu membuatmu harus beristirahat total selama 2 minggu, dan selanjutnya tidak boleh terlalu capek bekerja, juga makananmu yang harus terjaga, dan pengobatan teratur yang kau jalani agar penyakitmu benar-benar tuntas terobati INSHA ALLAH.

Aku tahu benar ini tidak mudah untukmu, apalagi kau tipe orang yang aktif dan tekun dalam pekerjaan. Juga tidak mudah untukku, karena selama ini kau hadir menemani hari-hariku, bukan hanya sekedar memberi motivasi, namun sosokmu selalu ada saat aku butuhkan. Namun tak masalah buatku untuk ”kehilangan “ sosokmu untuk sementara, toh ini juga demi kesembuhanmu.

Mungkin memang benar kata orang bahwa kita akan merasa sesuatu itu begitu berarti saat dia hilang dari hidup kita, dan sakitmu ini membuatku menyadari arti dirimu bagiku,juga perasaan yang kurasakan terhadapmu. Terasa benar perasaan sayangku untukmu saat melihat kau sakit, bukan hanya bersedih, tapi perasaan terluka melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah. Dan rasa syukur yang sangat besar kurasakan pada ALLAH sang pemberi kesembuhan, karena kedaanmu semakin membaik, walaupun harus minum obat secara teratur hingga beberapa bulan mendatang.

Namun ada satu yang mengganjal dari hubungan kita selama ini dan membuatku ragu tentang perasaanku untukmu. Aku seringkali berdialog dengan hatiku mengapa aku belum punya visi untuk menikah denganmu, mengapa aku belum siap untuk menikahimu, padahal orangtua kita masing-masing telah memberi lampu hijau, dan kaupun sering menanyakan apakah aku sudah siap untuk itu, dan aku hanya bisa menjawab bahwa aku belum siap untuk saat ini tanpa mengemukakan alasan yang lebih rinci.

Terus terang ada sosok lain dalam pikiran dan hatiku, sosok samar yang entah akan kutemui atau tidak dalam hidup ini. Sosok impian yang terdoktrin dalam hati dan pikiranku. Yah, aku pernah tersentuh oleh hidayah itu, mengecap indahnya cahaya iman, aku pernah belajar tentang ISLAM. Aku mendamba sosok pria yang mendampingiku adalah pria yang bisa menjadi imam dalam keluarga, yang mampu membimbingku kembali mengecap indahnya iman.

Hingga saat ini keindahan ISLAM itu tetap terpatri di hatiku, namun cahayanya tidak secemerlang dulu lagi, cahayanya redup seiring lalaiku dalam usaha untuk istiqomah, aku beriman, imanku kuyakini dalam hatiku dan kuucapkan dengan lisanku sejak dulu, namun implementasinya dalam amal perbuatankulah yang aku sadari menurun drastis.

Baru kusadari sudut pandangku yang satu ini sangatlah dangkal, selama ini aku menginginkan seorang teman hidup yang mampu membantuku naik kelas dalam keimanan, aku bergantung pada sosok samar untuk kebahagiaan akhiratku. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir sesempit itu? Di kala ajal menjemput, maka tak ada penolong selain amal perbuatan, orang tua saja tak mampu menjadi penolong, apalagi hanya seorang teman hidup. Aku sendirilah yang harus bangkit dan menggapai cahaya iman, aku yang harus berbenah diri. Seorang pendamping hidup hanyalah partner yang saling bahu membahu untuk itu, saling mengingatkan saat berbuat salah, dan tidak terlena akan kegembiraan. Bagaimana mungkin aku bermimpi mendapatkan sosok seperti Ali bin Abi thalib radiyallahu anhu bila aku sendiri bukanlah Fatimah az Zahra?

Dan kuhadirkan lagi sosokmu, yang menemaniku selama ini, atas dasar apa aku menganggapmu tak bisa jadi imam dalam keluarga? Apakah karena kau tak fasih dalam berucap “di hadist ini begini, dalam al qur’an di katakan begini”? Mungkin memang sosokmu tak seperti itu, tapi aku tetap bersyukur, kewajibanmu sebagai seorang muslim kau jalankan, dan larangan ALLAH kau hindarkan. Bahkan aku malu, karena kau mampu berbuat tanpa perlu umbar kata, sedangkan aku yang merasa tahu lebih banyak kadang hanya sebatas kata tanpa perbuatan.

Sosokmu adalah orang yang apa adanya, menunjukkan dirimu yang sesungguhnya tanpa topeng apapun. Aku masih ingat di awal hubungan kita, kau pernah berkata untuk menerima orang yang kau cintai apa adanya, tidak merubahnya menjadi gambaran yang kau inginkan, karena itu sama saja kau mencintai gambaran dirimu sendiri. Jatuh cinta adalah hal yang mudah, mengikuti hukum ketertarikan, “saat kau fokus pada sesuatu atau seseorang maka kau akan merasakan ketertarikan”, namun mempertahankan cinta adalah inti dari sebuah hubungan.

Dan itulah yang kau lakukan selama ini, memahamiku tanpa letih, aku saja kadang heran kok kau bisa tahan pada sosokku? Ibu saja berkata kalau aku keras kepala, merasa argumennya paling benar, sulit menerima kritikan, bahkan kadang menyadari telah melakukan kesalahan tapi tidak meminta maaf. Aku masih ingat benar karena bertengkar dengan ibulah yang membuatku pergi sekolah ke kota lain, dan ini jualah yang membuatku sadar bahwa aku telah begitu banyak berbuat salah pada bunda tercinta. Kalau ibu tahan terhadapku, tingkah lakuku, ya wajarlah, aku anaknya, bahkan satu-satunya anak ibu yang perempuan. Tapi kau? Mungkin bukan hanya alasan cinta yang membuatmu bertahan, ciri pribadimu yang melankolis dan plegmatis, membuatmu mampu menganalisa sesuatu sebelum mengambil tindakan, mengutamakan logika daripada emosi, tidak sepertiku yang bertipe sanguin, menanggapi sesuatu dengan perasaan terlebih dahulu, selalu haus perhatian dan persetujuan atas apa yang kulakukan. Dan tipe kolerisku yang haus akan penghargaan.

Kemampuanmu memahami mebuatku mampu mengurangi sifat jelekku sedikit demi sedikit, caramu menasehati tidak menggurui, saat aku marah dan tersinggung karena hal sepele, kau hanya membiarkanku meluapkan emosi, bahkan kau terkesan diam, tak langsung berkata bahwa aku salah dan tidak boleh seperti ini seperti itu, 1 atau 2 hari berikutnya kala suasana hatiku membaik, barulah kau mendiskusikannya , dan hasilnya aku bisa mencernanya dengan kepala dingin dan menyadari bahwa aku telah berbuat salah. Yah kau membuatku belajar memahami orang lain.

Hari itu kita berbicara dari hati ke hati, melihat kembali waktu yang telah terlewati, dan aku pun berbicara tentang “pria idaman lain” itu kepadamu, kukeluarkan semua perasaan yang mengganjal, kita membicarakannya dengan begitu terbuka. Akhirnya kita berusaha menemukan solusi yang tepat INSHA ALLAH, sama-sama berusaha meningkatkan kualitas diri dan keimanan kita, salah satunya dengan membeli buku dan membahas isinya serta berusaha menerapkannya dalam hidup ini. Kau juga berkata, tidak ada yang instan dalam dunia ini, semua butuh proses, aku dan kamu yang sekarang tak mungkin sama dengan aku dan kamu yang akan datang, karena pengalaman dalam hidup membuat kita bisa berpikir lebih maju, memandang hidup dengan cara yang berbeda. Namun yang terpenting adalah berusaha dan berdoa terlebih dulu, hasil akhirnya di pasrahkan pada ALLAH satu-satunya sang penentu.

Sejak dulu, di setiap doaku aku begitu segan meminta ALLAH untuk menjodohkanku dengan orang ini atau orang itu walapupun aku begitu menginginkan seseorang. Entah kenapa aku merasa terlalu memaksakan kehendak jika meminta seperti itu, karena bagiku yang paling tahu siapa yang terbaik buatku hanyalah ALLAH azza wa jalla. Doa yang senantiasa kupanjatkan adalah agar di berikan pendamping hidup yang mencintai ALLAH di atas segala cinta, yang mampu menjadi imam buat keluarga, saling bahu membahu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat INSHA ALLAH. Dan aku percaya bahwa ALLAH tak akan pernah menbuatku kecewa, siapapun orangnya maka itulah yang terbaik buatku. Semua akan indah pada waktunya, dan hanya ALLAH yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk itu.

Filed under: Let's talk about love

Mereka bilang “kamu lesbi”

Aku mengenalmu kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu kita tinggal di lantai yang sama di kost PENJERNIHAN. Usiamu 2 tahun lebih tua dariku, dan terus terang aku senang bisa mengenalmu, karena pengetahuan umumku menjadi bertambah saat berdiskusi baik tentang politik dan organisasi politik yang kau geluti, masalah lingkungan hidup, dan juga topik pengembangan diri. Kurang lebih 3 bulan mengenalmu, kau berterus terang bahwa secara rutin engkau berkonsultasi pada psikolog karena stressor yang kau temui dalam hidup membuatmu menjadi manusia yang kehilangan harapan dan kepercayaan pada diri sendiri, dan hal itu bisa membuat kewarasanmu hilang jika di biarkan begitu saja.

Kau juga mulai bercerita alasan kepindahanmu ke Makassar karena ternyata sebelumnya bekerja di Jakarta. Bukan hanya itu, pengalaman hidup yang kau ceritakan padaku membuatku sadar bahwa kehidupan ini keras, kaulah contoh nyata. Yang membuatku kagum adalah perasaan hopeless yang kau rasakan karena cobaan hidup dan rasa kehilangan tidak membuatmu jatuh ke hal-hal negatif, melainkan membuatmu mencari cara untuk menata mental dan lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta.

Walaupun aku akhirnya pindah kost ke PONDOK SEJAHTERA, yang hanya beberapa blok dari tempat kost sebelumnya, kau masih tetap sering mengunjungiku. Hingga suatu peristiwa, tepatnya sebuah cerita yang entah benar kebenarannya atau tidak mengubah segalanya. Saat itu malam minggu, seperti biasa jika tidak ada tugas yang menumpuk aku sempatkan untuk bertemu teman-teman yang lain di kost PENJERNIHAN. Dan malam itu teman-teman yang lain memberitahu untuk menjauhimu dan tidak menerimamu di tempatku, karena mereka mencurigaimu seorang lesbian. Aku terhenyak tapi mencoba obyektif, kutanyakan mengapa mereka bisa berpendapat seperti itu, mereka berkata bahwa kau sering mengintip teman-teman lain saat mereka tidur, dan mereka sempat memergokimu 2 kali. Mereka berkesimpulan bahwa orientasi seksualmu adalah sesama jenis.

Harus kuakui hal itu membuatku tidak bisa lagi memandangmu sama seperti dulu, ada perasaan risih saat berbicara berdua denganmu di tempatku, tidak seperti dulu lagi. Ku pastikan kau menyadari rumor yang berkembang tentang dirimu, dan kesibukanku yang menggunung mungkin membuatmu mengira aku sengaja membentang jarak. Dan akhirnya kau tidak pernah lagi mengunjungiku, kita hanya ber “say hello” jika kebetulan berpapasan di depan kost.

Terus terang aku tipe orang yang tidak pilih-pilih dengan siapa aku bergaul, aku masih ingat benar saat di bangku SMP salah satu temanku seorang “kleptomania” namun kleptomania di sini bukan dalam arti sebenarnya karena jika di tinjau secara harfiah kleptomania adalah penyakit kejiwaan, karena si pelaku tidak punya motif pencurian, tapi senang dengan perasaan tegang sebelum mencuri dan rasa puas setelah pencurian itu, bahkan kadang barang yang di curi adalah hal-hal sepele misalnya sisir. Tapi teman SMP ku memang mencuri dengan motif kebutuhan keuangan, atau mencuri barang-barang yang tidak dia miliki seperti jam tangan, bahkan kutex. Teman-teman yang lain banyak yang menjauhinya, tapi aku tetap bergaul dengannya meskipun harus extra hati-hati dengan kejahilan tangannya.

Memang benar berteman dengan pandai besi membuat kita kadang terkena panasnya dan berteman dengan penjual minyak wangi membuat kita terpercik wanginya, namun aku tidak lantas menjauhi teman-teman yang salah jalan atau bisa dikatakan melenceng dari norma yang berlaku. Bagiku setiap orang punya problem mereka sendiri, punya pemikiran sendiri, tanggung jawab sendiri terhadap hidup mereka, syukur-syukur berteman dengan mereka bisa sedikit mengingatkan, kalau di dengar ya syukur,kalo tidak mau bagaimana lagi. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup yang tak sempurna ini.

Dan hari ini, aku bertemu lagi denganmu, aku datang mencarimu, karena aku tak bisa sendiri saat ini, aku butuh teman yang bisa memberi solusi, bukan sekedar pendengar atau hanya bisa menyalahkan atas kebodohanku. Aku butuh kawan yang mampu berempati bukan hanya bersimpati. Yah aku membutuhkanmu, atas rasa kehilangan yang membuat oleng, atas kekecewaan akan suatu hal yang sangat berarti dalam hidupku, atas rasa tak sanggup bangkit dari kejatuhanku kali ini, atas perasaan hopeless yang kurasakan dan tidak mampu kuceritakan pada orang lain. Akal sehatku tak lagi dominan, di kuasai oleh perasaan, yang membuatku sanggup melakukan hal-hal yang buruk. Dan hari ini, aku berkeluh kesah pada orang yang tepat, padamu.

Kau berkata padaku bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita gapai dalam hidup atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kita,maka lepaskan, relakan. Hidup itu seperti mengandarai sebuah mobil, yang mengendalikan adalah kita dan akal sehat, masalah yang kita hadapi di ibaratkan sebuah lubang di jalan, saat akal sehat kita masih berkuasa maka lubang yang kita hadapi hanyalah menghasilkan guncangan yang kadang membuat tubuh terasa sakit tapi kita harus tetap bertahan dan melaju. Namun saat akal sehat tak ada lagi, lubang itu akan membuat kita takut dan berhenti melaju atau malah membuat mobil terpelanting dan melukai kita. Kau benar kawan, perasaanlah yang menguasai akal sehatku sekarang, dan sungguh aku ingin bangkit lagi. Kau juga berkata untuk menata kembali konsep hidupku, dan sekali lagi kau benar, karena konsep hidup, mimpi, harapan, dan rencana masa depan yang kuyakini dan kujalani saat ini tak bisa kulanjutkan karena kehendak Sang Kuasa. Dan kau akhirnya mengingatkanku lagi untuk tidak mencintai sesuatu atau seseorang di atas kecintaanku terhadap Rabb, yah aku lalai dengan hal itu, terlena dengan mimpi indah dunia, saat Sholat hanya menjadi kewajiban tanpa ruh, saat rasa cinta terhadap Rabb di kalahkan oleh rasa cinta terhadap suatu hal yang fana, maka kita hanyalah menunggu keruntuhan. Biarkan sesuatu yang berharga itu tetap di hatimu, biarkan dia tinggal seperti apa adanya, walaupun kau tidak bisa menggapainya atau membuatnya jadi nyata, relakan dan ikhlaskan saja sebagai suatu hal yang tidak bisa kau gapai dalam hidup ini.

Terima kasih untuk semuanya kawan, mereka bilang “kamu lesbi”, kalau itu memang benar “so what” gitu loeh. Toh hal itu juga belum terbukti kebenarannya. Lagipula Lesbi, homo, waria, juga manusia yang punya eksistensi diri, ingin di akui keberadaannya dan setiap manusia ingin di perlakukan “sebagaimana mereka ingin engkau memperlakukan mereka”. Bahkan kadang-kadang kualitas diri yang mereka punya melebihi orang yang mengaku diri mereka normal tapi dengan mudah men “judge” orang dari luarnya saja. Mengaku bijak tapi dengan menghakimi. Sekali lagi terima kasih kawan, karena membuat perasaanku menjadi lebih baik dan tenang, memang waktu sehari dua hari tidaklah cukup untuk sembuh dari kegagalan dan rasa kehilangan ini, tapi INSHA ALLAH ini adalah awal.

By the way, rencana renang ke PMCC minggu depan jadi kan?:)

Filed under: It's my life

“TRAGEDI” ayat-ayat cinta

Sudah 2 hari ini aku bolak-balik studio 21 sejak mengetahui kalo hari senin lalu tepatnya tanggal 25 februari film ayat-ayat cinta sudah di putar di studio 1, dan bukannya tanggal 28 februari seperti iklannya.

Selasa, 26 februari aku datang ke studio 21 mal panakukang sekitar jam 6:45 pm, tiket untuk jam 7:15 pm sudah sold out, yang ada cuma pemutaran jam 9:30 pm, tapi teman yang bersamaku tidak mau kalau nontonnya jam segitu, alhasil kami pulang dan janjian untuk kembali esok hari.

Rabu, jam 7:00 pm rencananya kami mau nonton jam berapapun, yang penting rasa penasaran pada film ini bisa terpuaskan. Bukan apa-apa, novel ayat-ayat cinta ini sudah aku baca sejak tahun 2005, dan merupakan salah satu bacaan favoritku. Namun akhirnya kami kembali pulang dengan tangan kosong karena semua jam penanyangan tiketnya sold out. Rasanya kecewa berat, tapi hari esok kan masih ada pikirku.

Jam 10:00 pm tiba-tiba temanku menelpon dan mengatakan mau menjemputku di kosan 15 menit lagi untuk kemudian kerumahnya menonton film ayat-ayat cinta, katanya adiknya punya cd nya. Awalnya sih aku tidak mau karena takut kualitas gambarnya jelek, dan rasanya lebih seru nonton di bioskop dengan layer super gede. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya, jadilah malam itu aku nonton bareng dengan temanku dan adiknya di rumah mereka. Kualitas gambarnya bagus sekali persis seperti cd original dan sekaligus membuatku heran (bukan heran karena cd kok bisa di bajak), tapi heran karena bajakannya bisa beredar secepat ini, dengan kualitas gambar bagus pula (dan ternyata ini pula alasan mengapa film ini di majukan penayangannya karena telah di bajak sejak tayang priemernya di jakarta).Bukan rasa heran saja yang menghinggapiku, tapi juga takjub, aneh bin ajaib, karena film yang ku tonton ini sama sekali tidak mirip dengan novelnya.

Uuuuuggghhh rasa kesal, umpatan penuh emosi kami tidak etis rasanya kalau aku tuliskan di sini. Aku merasa benar-benar kecewa, novel sebagus itu, pesan moral yang ingin di sampaikan kang ibik, novel yang bisa menjadi pembangun jiwa, novel yang bisa membuatku lebih paham akan ajaran agamaku, di interpretasikan dalam film yang sungguh jauh dari novelnya. Temanku bahkan mengatakan, kalau mas hanung mungkin tidak mengerti apa pesan dalam novel itu (padahal dia sangat mengagumi mas hanung setelah berhasil membuat film JOMBLO, karena ide ceritanya dari sebuah buku yang berjudul sama). Bayangkan saja, di novel itu di gambarkan kehidupan seorang pemuda yang bernama fahri, pemuda sabar, lembut dan penyayang, betul-betul menjalankan hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan hadist tapi kok di filmnya di gambarkan seperti pemuda yang tidak mampu menjaga pandangan dan pergaulannya, pemuda yang tidak sabaran, pemarah, dan cenderung tidak penyayang terhadap sang istri. Aisha yang di gambarkan seorang wanita muslimah yang menjaga perkataan, lembut, lagi penyabar, kok bisa menjadi aisha yang cenderung cuek dalam berbicara dengan sang suami, bahkan pencemburu dan pemarah. Bahkan ada adegan yang tidak pernah di tuliskan di dalam novel tapi ada di filmnya. Dan terus terang di sini aku kecewa, di gambarkan seorang yang berpoligami tinggal satu atap dengan kedua istrinya (aku tidak tahu boleh tidaknya dua orang istri di kumpulkan dalam suatu atap, namun aku rasa tidak etis karena perasaan wanita yang sangat halus, dan gampang merasa cemburu).

Tidak bisa di pungkiri, faktor durasi juga menjadi kendala. Novel membuat khayalan kita bisa mengembara kemana-mana, sesuai dengan latar belakang cerita dan alurnya.Tapi dalam film itu sulit di lakukan karena durasi yang terbatas, dan juga dalam film ayat-ayat cinta ini, budget untuk pembuatan film tersebut terbatas. Namun hal yang paling krusial adalah substansi dalam novel yang di angkat haruslah benar-benar sesuai dengan novelnya, dan inilah yang tidak di dapatkan dalam film ayat-ayat cinta, dan buatku merupakan hal yang sangat fatal sekaligus tragedi. Film DAVINCI CODE misalnya, walaupun tidak semua bagian dalam buku bisa di interpretasikan, tapi substansi ,alur cerita, dan karakter tokohnya sesuai dengan novelnya. Begitu juga dengan THE FIRM buku karya john grisham.

Perasaan kecewa menonton film ayat-ayat cinta ini sama seperti saat aku menonton film Jakarta undercover, yang benar-benar berbeda dengan bukunya, malah seperti cerita sinetron, kejar mengejar penjahat dengan si luna maya. Dan terus terang inilah yang membuatku kadang enggan menonton film Indonesia, bukannya aku tidak cinta buatan anak negeri. Jangan di tanya aku adalah salah satu generasi muda yang tetap bangga menjadi bagian dari negeri ini di tengah keadaan negara yang carut marut seperti sekarang ini. Namun dalam industri film ini, aku ingin sekali para senias Indonesia bisa melihat cara orang-orang Hollywood membuat film, nilai komersilnya dapat dan sekaligus ada pelajaran yang bisa di dapat setelah menonton film-film mereka. Misalnya saja schlinder list, dan freedom writers, yang mengulas isu SARA dan kemanusiaan, dan banyak lagi film-film yang menggambarkan bagaimana manusia di bumi ini harus bersikap agar tidak merugikan bumi yang kita tinggali saat ini, misalnya saja the end of the day, bahkan film I am a legend yang nilai komersilnya sangat tinggi tetap punya pesan moral di dalamnya. Industri perfilman kita memang kadang hanya mengejar nilai komersilnya, sehingga tidak membuang-buang waktu untuk riset terlebih dahulu.

Intinya, film ayat-ayat cinta ini sangat mengecewakan bila di bandingkan novelnya, namun aku sedikit terhibur atas pilihan tontonan yang berbeda dari film-film yang isinya melulu hantu gentayangan. Para sineas kita semua masih harus banyak belajar, dan para produser semoga saja berhenti untuk memikirkan keuntungan semata tetapi juga menjadikan industri ini sebagai tontonan yang layak di tonton dan mendidik.

Maju terus perfilman Indonesia, jadikan kritikan sebagai cambuk untuk karya berikut yang lebih baik. Ku tunggu karya mas hanung berikutnya ya. :) (

Filed under: Get closer with ikyul

LOGIKA or NURANI?

Lima bulan sudah aku tidak pernah membuka blog sendiri, bahkan ide dan hal-hal yang ingin ku tulis,singgah dan menguap entah kemana.Alasan kesibukan sih sebenarnya klise, karena kalau ada kemauan pasti ada saja jalannya.Tapi ghirah untuk menulis akhir-akhir ini memang sedang menurun.

Namun entah mengapa malam ini semangat untuk menulis muncul kembali.Gara-garanya peristiwa yang terjadi sore tadi.Tiba-tiba saja sepupuku yang berusia 21 tahun menelpon, dan berkata mau mampir menyambangiku sekaligus curhat.Sambil menunggunya aku terus berpikir anak ini punya masalah apa karena jarang-jarang dia mampir ke kost-an ku apalagi curhat segala.Alhasil aku menunggu dengan penasaran walaupun tidak sepenasaran saat menunggu kelanjutan serial kesayanganku.Akhirnya dia datang mengendarai escudo birunya bersama 2 teman cowok sebayanya.Herannya lagi walapun sudah cerita ngalor-ngidul, ini-itu, dia belum juga cerita masalah apa yang membawanya ke tempatku.Tebakan yang sudah ada di kepalaku sejak tadi kutanyakan saja secara gamblang, “pasti di antara kalian ini ada yang pacarnya sedang hamil, iya kan?” tanyaku ceplas ceplos layaknya cenayang ahli yang yakin akan tebakannya.Dan ternyata, dugaanku memang benar.Mudah saja sih sebenarnya, masalah yang dihadapi anak seusia mereka biasanya soal narkoba atau free sex dan dampaknya, apalagi kalau melihat latar belakang pendidikanku yang menyebabkan mereka datang mengunjungiku.

Dan memang benar, sepupuku itu datang mengunjungiku untuk meminta nama obat yang bisa menggugurkan kandungan pacar temannya yang sedang hamil 6 minggu.Walaupun aku bisa menduga persoalan mereka, tetap saja rasa tak percaya, menghampiriku.Desas-desus kebobrokan pergaulan anak-anak ABG makassar ternyata memang benar, ini lah salah satu buktinya.Anak yang sedang hamil itu masih duduk di salah satu bangku SMU negeri di kota ini.

Aku terdiam, logika dan kata hati punya pendapat yang sungguh berbeda.Kata hatiku jelas-jelas menolak untuk memberikan nama obat itu, walaupun pembentukan organ belum terbentuk pada janin itu, tapi tetap saja bakal calon manusia yang tidak bersalah, walaupun aku tak tahu pada minggu keberapa atau bulan keberapa ruh di tiupkan kepadanya, tapi tetap saja kata hati menolak untuk memberi mereka nama obat itu.Sementara logikaku punya pendapat bahwa akan ada dampak panjang yang lebih buruk bila aku tak memberikan nama obat itu, mungkin mereka akan di nikahkan dan mental mereka belum siap untuk itu.Kata hatiku berkata lagi “berani berbuat, ya harus bisa tanggung jawab akibatnya dong”.Kemudian hatiku memberondongku dengan pertanyaan “kalau kamu memberi tahu mereka obatnya, bukan hal mustahil mereka akan menyalahgunakannya, dan tidak takut untuk berbuat lagi karena penangkalnya sudah ada”.Wah kata hatiku betul juga, tapi “tunggu dulu, kamu kan bisa membeli obat itu, dan memberi mereka pilnya saja tanpa kemasan” sambung logikaku.Sedih rasanya, imanku mungkin lemah, logika dan kata hatiku saling bertentangan, tapi satu hal yang pasti aku masih bersyukur nurani dan logikaku masih se iya dan sekata bahwa free sex yang mereka lakukan adalah perbuatan zinah dan salah satu dosa besar dalam agama yang ku anut dan benar-benar kuyakini kebenaran ajarannya.

Jadi buat pembaca, silahkan menerka keputusan apa yang akhirnya ku ambil, aku memberi kalian kebebasan untuk berimajinasi dengan pendapat dan pemikiran kalian :)

 

Filed under: It's my life

BELOVED SISTER

Zahra, nama temanku, bukan hanya sekedar teman, tapi juga seperti sister buatku, mungkin karena aku hanya memiliki 2 saudara laki-laki sehingga aku demikian sayangnya dengan zahra, padahal kami seumuran. Dia juga sudah tahu kelemahanku, yah aku sangat menyayanginya, pertolongan apapun yang di butuhkannya sedapat mungkin kuusahakan, cukup dengan senyum memelasnya hatiku akan luluh.

Kami belajar bersama, kemana-mana bersama,bahkan teman-teman menjuluki kami suami istri, soulmate dan masih banyak lagi julukan yang diberikan pada kami, tapi jangan di interpretasikan lain ya, kami berdua normal, bukan pasangan lesbian kok:).

Zahra sangat cantik, dan juga sangat ketat memberi batasan hijab dalam pergaulan maupun menurut aurat.Aku sendiri kagum padanya,dan salah satu alasan aku sangat menyayanginya adalah karena hal itu.

Karena pemahaman agamanya jualah yang membuatnya bimbang saat dia mulai menyukai seorang pria.Abdul nama pria itu,masih memiliki hubungan keluarga dengannya,walaupun menyukai abdul, dia tidak pernah berduaan apalagi menyingkirkan hijab dalam pergaulan dan penampilannya.Zahra bimbang,dia tidak ingin berlama-lama dalam hubungan yang seperti itu,takut nantinya akan seperti kebanyakan pasangan muda-mudi yang berpacaran dan bergaul seperti di zaman jahiliyah,apalagi dia hanya tinggal bersama sepupu perempuannya dan seorang kakak lelakinya,jauh dari orang tua.

Saat abdul menawarinya untuk menikah,dia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tuanya,walaupun ayahnya memberi restu,tapi ibunya tidak setuju kalau zahra menikah sebelum menyelesaikan pendidikannya.

Akhirnya keinginan untuk menikah coba di lupakannya.Namun seiring berjalannya waktu dia merasa bahwa dirinya tak ubahnya seperti pasangan-pasangan lain yang sedang di mabuk asmara,walaupun di mataku tidak ada yang berubah darinya,dia tetap zahra yang menjaga hijabnya,kalaupun abdul menjemputnya sepulang kuliah,aku pasti ikut bersama mereka.Tapi siapa yang bisa menjamin kesucian hati? Hanya yang empunya hatilah yang paling memahami siapa diri mereka sebenarnya,dan itulah yang di rasakan zahra,dia merasa kesucian hatinya telah ternoda.Dan akhirnya dia berani mengemukakan pendapatnya untuk menikah tapi tanpa sepengetahuan ibunya dan orang banyak.

Dan aku,orang terdekatnya di beri tahu seminggu sebelum pernikahan itu.Tentu saja aku kaget,ku tanyakan apakah dia sudah benar-benar yakin dengan keputusan ini?Apakah abdul benar-benar bisa di jadikan seseorang yang pantas untuk menemani hidupnya di dunia ini INSHA ALLAH? Karena selama ini,aku menilai zahra terlalu bernilai untuk seorang abdul,yang katanya baru insyaf dari pergaulan bobroknya,dan mencoba untuk lebih baik sekarang ini.Aku pernah mengemukakan opini itu pada zahra,tapi dengan bijak dia berkata bahwa seseorang pantas untuk di beri dukungan,apalagi saat dia mengaku telah meninggalkan perbuatannya yang buruk di masa lalu.Apalagi kakak lelaki zahra yang juga teman abdul,mengatakan hal-hal yang baik tentang abdul.Aku hanya bisa mendoakan saja yang terbaik,terlebih lagi alasan lainnya adalah karena Abdul masih keluarga dekat yang notabene menurutnya akan lebih menyayangi dan melindunginya di bandingkan pria lain.

Pernikahan itupun terlaksana di sebuah rumah milik keluarga jauh zahra di kota ini dan hanya di hadiri sekitar 15 orang,kakak lelakinya, aku satu-satunya teman,penghulu,saksi,dan keluarga jauhnya yang berada di kota ini.Ayah zahra yang berada di kota lain hanya mendengar lewat handphone,ibunya dan saudara perempuannya sama sekali tidak tahu menahu dengan peristiwa ini.

Bahkan aku lah yang bersikeras mencarikan kebaya untuknya,karena awalnya dia berkata itu tidak perlu,karena dia akan mengenakan pakaian yang sering dipakainya saat ke pesta pernikahan teman kami,tapi bagiku ini tetaplah sebuah moment yang sangat indah bagi seorang perempuan,saat mendandaninya aku mencoba tak menangis,karena bagiku dia layak untuk mendapatkan lebih dari ini,di dampingi oleh ibu dan ayahnya,teman-teman kami yang lain,orang-orang yang menyayanginya,dan akhirnya setelah ijab qabul di ruang tengah,zahra memelukku dan kami menangis bersama,”sister, i wish all the best for you”,barakallah, itulah doaku sis,dalam hati dengan seluruh perasaan sayangku untukmu.

Dan 3 bulan kemudian kami kembali bersama,aku,zahra dan kakak lelakinya,tp kali ini di dalam sebuah ruangan yang sedapat mungkin di hindari oleh pasutri,ruangan sidang pengadilan agama.Zahra menggugat cerai suaminya abdul,karena tertangkap basah sedang berselingkuh di sebuah kamar hotel.Abdul memang tidak pernah meninggalkan kebobrokan pergaulannya,mungkin juga dia mencoba tapi tidak berhasil,entahlah.Yang aku rasakan hanyalah perasaan iba sekaligus bangga pada zahra,my beloved sister,iba karena aku merasa dia pantas mendapatkan lelaki terbaik di dunia ini,bangga karena dia dengan teguh memutuskan langkah apa yang harus dia ambil saat ini,buatnya perzinahan tidak dapat di beri toleransi,dan dia tidak merasa malu menyandang status janda di usianya yang masih sangat muda,23 tahun.Baginya jalan masih panjang,masih ada banyak hal-hal indah ataupun masalah yang lebih pelik yang natinya akan di jumpainya,dan apa yang di alaminya saat ini tidak akan menjadi kan halangan buatnya untuk mencari kebahagiaan lain nantinya INSHA ALLAH.

Aku tak tahu siapa yang bisa di kambing hitamkan dalam masalah ini,apakah abdul yang katanya mencoba menjadi lebih baik namun tak berhasil,zahra yang mempunyai niat yang baik dalam mengambil keputusan untuk menikah tapi kurang mempertimbangkan hal yang lain seperti restu ibunya,ataukah ayahnya yang memberi izin tanpa memikirkan baik dan buruknya hal itu,atau aku sahabatnya yang tidak bersikeras dengan pendapatku untuk menunda pernikahannya saat itu.

Atau mungkin benar kata ustadz yang kami temui bahwa walaupun pernikahan zahra saat itu sah di mata ALLAH dan di mata hukum,dengan restu ayahnya, namun tetap tanpa restu ibunda yang melahirkannya,dan juga tanpa ada syiar ke khalayak ramai,sehingga abdul merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dirinya karena sepengetahuan orang lain dia masih lajang.

Yah kira-kira sperti itulah,pernikahan bukan hanya hubungan antar pasangan suami istri,tapi juga hubungan antara pasutri dengan keluarganya,masyarakat di sekitarnya,dan bukan hanya bermodalkan niat yang baik.

Dan buatku sendiri,i hope will marry with the right man,on the right time,and in the right place INSHA ALLAH:)

Filed under: It's my life

HTS*

*Hubungan Tanpa Status

Untuk ke sekian kalinya dalam 6 bulan ini andra datang lagi padaku, bercerita tentang rasa pilunya di tinggal oleh seorang lusi setelah 7 tahun bersama.

Dan entah untuk yang ke berapa kalinya aku memeluknya, dan berkata “ndra jangan gini dong, hati inge lebih sakit kalo ngeliat kamu sedih kaya gini di bandingkan menyadari kenyataan inge cuma HTS an kamu’’.

Yah, pahit memang..
aku, inge, hanya seorang wanita yang mengisi hari-hari andra setelah di tinggalkan oleh seorang lusi.

Masih terbayang jelas saat dia memberi pengakuan padaku “nge, aku suka ma kamu, tapi aku ga bisa menjanjikan apa-apa untukmu, ga bisa memberi kepastian akan seperti apa hubungan kita nantinya, aku sayang kamu inge, tp aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku dan menyembuhkan duka yang di tinggalkan lusi. Yang bisa ku beri sekarang hanya sebuah hubungan seperti ini.

Mungkin aku memang bodoh, atau telah di butakan oleh perasaan cinta, ku terima saja tawarannya untuk menjalin sebuah hubungan tanpa status alias HTS.Itu memang pilihan yang ku ambil dan ku sadari konsekuensinya, so much pain di dalamnya, tapi aku merasa lebih sakit tanpanya, tanpa sosok andra, tanpa mengetahui kabar tentang dia, atau sekedar melewati hari tanpa memberinya perhatian,walaupun hanya melalui sms yang kadang tak di balasnya,bahkan alasan mengapa dia tidak bisa menjadikanku pacarnya, ku telan mentah-mentah, tanpa argumen yang berarti dan malah kujadikan sebagai nilai tambah untuknya,yaitu kejujuran.”Aku ga bisa menjadikanmu pacar saat ini nge, karena saat aku menjadikanmu pacar berarti aku telah berkomitmen padamu dan aku menjunjung tinggi sebuah komitmen,bagaimana jika lusi menyadari kesalahannya dan ingin kembali padaku? Aku pasti menerimanya nge, karena kami punya masa 7 tahun, telah saling mengenal satu sama lain, dan saat itu akan sangat menyakitkan bagimu karena kau telah berstatus sebagai pacarku”.

Yah, aku seorang inge, mengaguminya karena kejujurannya,kesetiaannya,dan rasa cintanya, walaupun itu bukan di tujukan untukku.

Aku memang memeluk raganya, tapi bibirnya berucap hal indah yang bukan di tujukan untukku, “hatiku dan hati lusi telah bermain main bersama nge, sehingga hati ini ga bisa kemana mana lagi, aku masih ingat,saat hiking bersamanya,aku menggendongnya,ga peduli akan rasa lelah di sekujur tubuhku” atau “tau ga nge, lusi tuh suka banget ma kopi, ga bisa melewatkan sehari tanpa kopi” dan masih banyak lagi cerita andra tentang lusi, kenangan mereka.

Sebagai wanita yang sangat mencintainya aku ingin berkata “kenapa kau begitu mencintai lusi? Padahal yang ada di dekatmu saat ini aku ndra, yang menemanimu melewati semuanya aku ndra? Mana lusi yang kau banggakan itu?dia ga ada ndra, ga ada! Tapi aku ga sanggup, aku terlaluh lemah mungkin lebih tepatnya became an idiot coz this love.

Bahkan setiap kali andra pamit padaku untuk pulang aku menangis dalam pelukannya, karena sangat takut kalau kalau lusi kembali padanya dan hari ini adalah hari terakhirnya bersamaku, dan setiap kali aku menangis di pelukannya andra memelukku dan berkata “nge, lusi yang juga begitu sedihnya setiap kali kami berpisah seperti ini, toh dia juga bisa meninggalkan aku”.Itulah andra, yang begitu terluka kehilangan wanita yang di cintainya tetapi tak bisa melupakan cinta itu sendiri.Entah siapa yang lebih menyedihkan, aku atau andra, mungkin ini jugalah yang mendekatkan kami, perasaan ini.

Logika ku berkata, inge tinggalkan semua ini, kamu bisa mendapatkan lelaki lain yang bisa mencintaimu sepenuh hati, membuatmu tersenyum, mengisi hari-harimu dan membahagiakanmu.Tapi hati ini tak sanggup, sungguh tak sanggup kehilangan seorang andra.

Dalam hidup kita selalu di hadapkan pada sebuah pilihan, dan inilah pilihanku, bersama andra walaupun hanya untuk sesaat.

Dan akhirnya, dewi fortuna berpihak padaku, setelah 8 bulan menjalin hubungan tanpa status bersama andra, akhirnya dia berkata”nge,aku ingin meninggalkan masa laluku , aku ingin memulai sesuatu yang baru bersamamu, kamu mau nge?menjadi pacarku? Tapi yang sabar ya nge, aku ingin belajar mencintaimu, aku butuh waktu melupakan segala hal tentang lusi”. Itulah perkataan andra saat itu, dan aku, seorang inge begitu bahagianya dengan status baru, walaupun status itu sebenarnya tidak memberikan perubahan apa-apa dalam hubungan kami, karena andra masih belum mencintaiku.

Aku melalui hari-hari sebagai pacar andra, ada yang berubah memang, dia tidak lagi bercerita tentang lusi dan perasaannya, dia juga sudah rajin membalas sms yang kukirimkan.Tapi tetap saja aku tak bisa mengerti tentangnya, tentang andra, mengapa foto-foto lusi masih tergantung di kamarnya dan tersimpan rapi di telepon genggam miliknya, dalam drive khusus komputernya,atau mengapa saat lusi menelponnya dia masih menerimanya dengan bahagia, dan tidak memikirkan perasaanku yang saat itu berada di sampingnya, sungguh aku tidak berjiwa besar menerima semua itu, tapi yang kulakukan hanya diam dan tangis menjadi teman baikku tanpa sepengetahuannya.

Hari ini, hampir setahun aku menjadi pacar andra, di tambah 8 bulan bersamanya dalam hubungan tanpa status.

Aku menerima sms nya dan isinya singkat tapi membuatku bertanya-tanya “inge,aku ingin di dekatmu,aku ingin di dekatmu” itulah bunyi sms yang dia kirimkan padaku dan setelahnya dia menelponku dan ingin bertemu.

“Nge, jangan tinggalkan andra ya, cuma inge yang andra punya skarang ”lirih andra berkata di hadapanku.”Ada apa ndra?” Surprise pikirku tiba-tiba dia datang dan berkata seperti ini terhadapku, perkataan yang kunanti sejak dulu.

“Lusi nelpon semalam nge, dan ngabarin kalo dia akan menikah bulan depan.Rasanya sendiri nge, hanya inge yang menemani, jangan tinggalkan andra ya nge, andra baru menyadari kalo inge sangat berarti buat andra” andra berkata dengan sedih.

Ku raih andra dalam pelukanku, rasanya pedih.Ah seandainya…

”ndra maaf,inge udah sampai pada titik nadir menunggu, dan semalam inge tlah memutuskan meninggalkanmu, karena asa telah aus termakan waktu, aku telah putus asa, dalam hati dan pikiranku telah tertanam doktrin bahwa lusi adalah cinta sejatimu yang akan selalu ada dalam hatimu, seperti pernah kau tanyakan padaku “inge, seandainya nanti kita berjodoh, apakah kamu bersedia menjadi istriku tapi dalam hatiku lusi tetaplah cinta sejatiku? “dan aku hanya mengiyakan. Yah, tanpa aku dan andra sadari telah tertanam doktrin bahwa untuk selamanya aku hanyalah sebuah pelengkap dalam hati andra, tak akan pernah di cintainya, dan sekeras apapun aku mencoba aku tak bisa menggantikan lusi yang di pujanya.

“Doktrin itu telah berakar dalam hati dan pikiranku, menggilas segala asa dan usahaku untuk di cintai oleh andra. Dan semalam aku telah mengambil keputusan penting untuk mengakhiri semuanya, mungkin buat sebagian orang cinta adalah memberi tanpa mengharap imbalan, tapi aku ga bisa, aku hanya wanita biasa yang mencintai dan butuh di cintai, karena bagiku suatu hubungan ga akan berhasil hanya dengan memberi atau menerima saja.Dan ingat ndra, akan selalu ada kesempatan kedua untuk mencintai dan di cintai, kamu hanya harus membuka hati kamu dan berani untuk memulai lagi”

Itulah terkahir kalinya aku memeluk andra, rasanya pedih, tapi inilah keputusan yang terbaik buatku, dan seperti ucapanku pada andra, akan ada kesempatan kedua, buat andra dan juga buatku…

Filed under: Get closer with ikyul

About the writer

Libra girl(1st oct 1982),udah live alone since senior high(miss u mom),kadang bingung nentuin keputusan,tp kalo dah ngambil keputusan wuih,keukeh hehehe..kadang trlalu nyantai hadapi hidup,sakit maag,bondeng,maniezt dikit.capcay,mie goreng,duren,blaccurrent drink,red n black its my favourite colours,.JUVE REBORN,ewako PSM, ROSSI still the best,.. trying,pray, n be patience:)

Ikyul is reading

n2462022

YM status

RSS My friendster

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Previously on Ikyul

November 2009
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30