*Hubungan Tanpa Status
Untuk ke sekian kalinya dalam 6 bulan ini andra datang lagi padaku, bercerita tentang rasa pilunya di tinggal oleh seorang lusi setelah 7 tahun bersama.
Dan entah untuk yang ke berapa kalinya aku memeluknya, dan berkata “ndra jangan gini dong, hati inge lebih sakit kalo ngeliat kamu sedih kaya gini di bandingkan menyadari kenyataan inge cuma HTS an kamu’’.
Yah, pahit memang..
aku, inge, hanya seorang wanita yang mengisi hari-hari andra setelah di tinggalkan oleh seorang lusi.
Masih terbayang jelas saat dia memberi pengakuan padaku “nge, aku suka ma kamu, tapi aku ga bisa menjanjikan apa-apa untukmu, ga bisa memberi kepastian akan seperti apa hubungan kita nantinya, aku sayang kamu inge, tp aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku dan menyembuhkan duka yang di tinggalkan lusi. Yang bisa ku beri sekarang hanya sebuah hubungan seperti ini.
Mungkin aku memang bodoh, atau telah di butakan oleh perasaan cinta, ku terima saja tawarannya untuk menjalin sebuah hubungan tanpa status alias HTS.Itu memang pilihan yang ku ambil dan ku sadari konsekuensinya, so much pain di dalamnya, tapi aku merasa lebih sakit tanpanya, tanpa sosok andra, tanpa mengetahui kabar tentang dia, atau sekedar melewati hari tanpa memberinya perhatian,walaupun hanya melalui sms yang kadang tak di balasnya,bahkan alasan mengapa dia tidak bisa menjadikanku pacarnya, ku telan mentah-mentah, tanpa argumen yang berarti dan malah kujadikan sebagai nilai tambah untuknya,yaitu kejujuran.”Aku ga bisa menjadikanmu pacar saat ini nge, karena saat aku menjadikanmu pacar berarti aku telah berkomitmen padamu dan aku menjunjung tinggi sebuah komitmen,bagaimana jika lusi menyadari kesalahannya dan ingin kembali padaku? Aku pasti menerimanya nge, karena kami punya masa 7 tahun, telah saling mengenal satu sama lain, dan saat itu akan sangat menyakitkan bagimu karena kau telah berstatus sebagai pacarku”.
Yah, aku seorang inge, mengaguminya karena kejujurannya,kesetiaannya,dan rasa cintanya, walaupun itu bukan di tujukan untukku.
Aku memang memeluk raganya, tapi bibirnya berucap hal indah yang bukan di tujukan untukku, “hatiku dan hati lusi telah bermain main bersama nge, sehingga hati ini ga bisa kemana mana lagi, aku masih ingat,saat hiking bersamanya,aku menggendongnya,ga peduli akan rasa lelah di sekujur tubuhku” atau “tau ga nge, lusi tuh suka banget ma kopi, ga bisa melewatkan sehari tanpa kopi” dan masih banyak lagi cerita andra tentang lusi, kenangan mereka.
Sebagai wanita yang sangat mencintainya aku ingin berkata “kenapa kau begitu mencintai lusi? Padahal yang ada di dekatmu saat ini aku ndra, yang menemanimu melewati semuanya aku ndra? Mana lusi yang kau banggakan itu?dia ga ada ndra, ga ada! Tapi aku ga sanggup, aku terlaluh lemah mungkin lebih tepatnya became an idiot coz this love.
Bahkan setiap kali andra pamit padaku untuk pulang aku menangis dalam pelukannya, karena sangat takut kalau kalau lusi kembali padanya dan hari ini adalah hari terakhirnya bersamaku, dan setiap kali aku menangis di pelukannya andra memelukku dan berkata “nge, lusi yang juga begitu sedihnya setiap kali kami berpisah seperti ini, toh dia juga bisa meninggalkan aku”.Itulah andra, yang begitu terluka kehilangan wanita yang di cintainya tetapi tak bisa melupakan cinta itu sendiri.Entah siapa yang lebih menyedihkan, aku atau andra, mungkin ini jugalah yang mendekatkan kami, perasaan ini.
Logika ku berkata, inge tinggalkan semua ini, kamu bisa mendapatkan lelaki lain yang bisa mencintaimu sepenuh hati, membuatmu tersenyum, mengisi hari-harimu dan membahagiakanmu.Tapi hati ini tak sanggup, sungguh tak sanggup kehilangan seorang andra.
Dalam hidup kita selalu di hadapkan pada sebuah pilihan, dan inilah pilihanku, bersama andra walaupun hanya untuk sesaat.
Dan akhirnya, dewi fortuna berpihak padaku, setelah 8 bulan menjalin hubungan tanpa status bersama andra, akhirnya dia berkata”nge,aku ingin meninggalkan masa laluku , aku ingin memulai sesuatu yang baru bersamamu, kamu mau nge?menjadi pacarku? Tapi yang sabar ya nge, aku ingin belajar mencintaimu, aku butuh waktu melupakan segala hal tentang lusi”. Itulah perkataan andra saat itu, dan aku, seorang inge begitu bahagianya dengan status baru, walaupun status itu sebenarnya tidak memberikan perubahan apa-apa dalam hubungan kami, karena andra masih belum mencintaiku.
Aku melalui hari-hari sebagai pacar andra, ada yang berubah memang, dia tidak lagi bercerita tentang lusi dan perasaannya, dia juga sudah rajin membalas sms yang kukirimkan.Tapi tetap saja aku tak bisa mengerti tentangnya, tentang andra, mengapa foto-foto lusi masih tergantung di kamarnya dan tersimpan rapi di telepon genggam miliknya, dalam drive khusus komputernya,atau mengapa saat lusi menelponnya dia masih menerimanya dengan bahagia, dan tidak memikirkan perasaanku yang saat itu berada di sampingnya, sungguh aku tidak berjiwa besar menerima semua itu, tapi yang kulakukan hanya diam dan tangis menjadi teman baikku tanpa sepengetahuannya.
Hari ini, hampir setahun aku menjadi pacar andra, di tambah 8 bulan bersamanya dalam hubungan tanpa status.
Aku menerima sms nya dan isinya singkat tapi membuatku bertanya-tanya “inge,aku ingin di dekatmu,aku ingin di dekatmu” itulah bunyi sms yang dia kirimkan padaku dan setelahnya dia menelponku dan ingin bertemu.
“Nge, jangan tinggalkan andra ya, cuma inge yang andra punya skarang ”lirih andra berkata di hadapanku.”Ada apa ndra?” Surprise pikirku tiba-tiba dia datang dan berkata seperti ini terhadapku, perkataan yang kunanti sejak dulu.
“Lusi nelpon semalam nge, dan ngabarin kalo dia akan menikah bulan depan.Rasanya sendiri nge, hanya inge yang menemani, jangan tinggalkan andra ya nge, andra baru menyadari kalo inge sangat berarti buat andra” andra berkata dengan sedih.
Ku raih andra dalam pelukanku, rasanya pedih.Ah seandainya…
”ndra maaf,inge udah sampai pada titik nadir menunggu, dan semalam inge tlah memutuskan meninggalkanmu, karena asa telah aus termakan waktu, aku telah putus asa, dalam hati dan pikiranku telah tertanam doktrin bahwa lusi adalah cinta sejatimu yang akan selalu ada dalam hatimu, seperti pernah kau tanyakan padaku “inge, seandainya nanti kita berjodoh, apakah kamu bersedia menjadi istriku tapi dalam hatiku lusi tetaplah cinta sejatiku? “dan aku hanya mengiyakan. Yah, tanpa aku dan andra sadari telah tertanam doktrin bahwa untuk selamanya aku hanyalah sebuah pelengkap dalam hati andra, tak akan pernah di cintainya, dan sekeras apapun aku mencoba aku tak bisa menggantikan lusi yang di pujanya.
“Doktrin itu telah berakar dalam hati dan pikiranku, menggilas segala asa dan usahaku untuk di cintai oleh andra. Dan semalam aku telah mengambil keputusan penting untuk mengakhiri semuanya, mungkin buat sebagian orang cinta adalah memberi tanpa mengharap imbalan, tapi aku ga bisa, aku hanya wanita biasa yang mencintai dan butuh di cintai, karena bagiku suatu hubungan ga akan berhasil hanya dengan memberi atau menerima saja.Dan ingat ndra, akan selalu ada kesempatan kedua untuk mencintai dan di cintai, kamu hanya harus membuka hati kamu dan berani untuk memulai lagi”
Itulah terkahir kalinya aku memeluk andra, rasanya pedih, tapi inilah keputusan yang terbaik buatku, dan seperti ucapanku pada andra, akan ada kesempatan kedua, buat andra dan juga buatku…
comments