
Yup, antara ponari sweet dan dewi persik memang tidak ada hubungan sama sekali. Hanya saja kedua berita itu menarik perhatianku, membuatku geleng-geleng kepala, sedikit iba, dan kesal. Pasalnya si dewi persik ini menikah siri akhir bulan juli kemudian akhir bulan september atau awal oktober dia kembali menikah siri, itu berarti masa iddahnya belum selesai tetapi dia telah melakukan nikah siri untuk yang kedua kalinya. Janganlah kita mengatasnamakan agama, berdalih menghindari zina untuk membenarkan perbuatan kita. Itu sama halnya cara untuk melegalkan perzinahan, dan membuat seseorang menikmati zina secara aman. Bukan tidak mungkin opini “menikah siri untuk menghindari zina” berkembang di masyarakat. Bisa-bisa adik-adik kita yang di bangku sekolah ikut-ikutan nikah siri dengan pacarnya agar bisa menikmati seks tanpa rasa berdosa. Inilah kalau mind set kita tentang pernikahan melulu soal menghindari zina, seakan-akan tidak ada cara lain yang bisa di lakukan untuk menghindari zina. Padahal menikmati seks hanyalah salah satu hikmah dari adanya pernikahan, bukan tujuan dari pernikahan.
Berbeda dengan berita dewi persik yang mebuatku kesal, berita si ponari ini membuatku geleng-geleng kepala, dan sedikit iba. Bagaimana tidak? ribuan orang berharap kesembuhan dari sebuah batu, yang entah benar mengandung zat-zat yang bermanfaat atau tidak, bahkan berita keampuhan batu itu menyembuhkan penyakit belum terbukti kebenarannya alias masih rumor, dan parahnya lagi, berita tentang orang-orang yang meninggal atau yang semakin parah karena tidak dapat di sembuhkan batu itu sudah terbukti kebenarannya, toh ribuan orang-orang itu masih tetap berduyun-duyun datang dan megharap kesembuhan dari batu si ponari. Bolehlah menduga ponari bocah indigo, tapi salah jika menganggap bocah indigo sebagai penyembuh. Bahkan menurut saya si ponari bukanlah bocah indigo, dia hanyalah bocah biasa yang kebetulan mempunyai batu petir itu, dan akhirnya ada yang membesar-besarkan tentang kemampuan batu itu. Iba rasanya melihat ribuan orang kompak untuk suatu aksi kebodohan. Iba rasanya melihat kenyataan bahwa sakit dan kemiskinan adalah dua hal yang bisa merusak aqidah dan keimanan seseorang. Iba rasanya bagaimana negeri kita belum mampu menyediakan pengobatan yang bisa di jangkau seluruh lapisan masyarakat dengan proses yang tidak bertele-tele.
Filed under: Refresh your mind