Aku kembali bertemu bapak itu di depan poli bedah tumor, wajahnya terlihat sedih namun pasrah. Istrinya hanya terdiam sambil memangku anak lelakinya yang berumur 5 tahun. “ Hasilnya bagaimana pak? Kepastian operasinya kapan? “ tanyaku. “ Saya masuk dalam daftar tunggu dik, pihak RS akan memberi kabar jika giliran saya sudah tiba “ jawab bapak itu pelan sambil memandang saya. Upfhh… saya menghela nafas pelan dan membuang pandangan ke lantai, rasanya tak sanggup menatap mata bapak itu.
Bapak itu datang ke kota ini atas rujukan RS daerah. Benjolan di kepalanya perlu di operasi, dan itu tak bisa di lakukan di RS daerah tempat tinggalnya. Bermodal kartu keterangan tak mampu, bapak itu datang ke kota ini, dengan harapan bisa di operasi secara gratis seperti komitmen pemerintah bahwa GAKIN bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Kurang lebih 4 minggu bapak itu bolak balik RS ini, pemeriksaan oleh dokter, pengambilan sampel darah, dan foto rontgen bahkan sudah di lakukan. Besar harapannya bisa di operasi minggu ini, tapi semua pupus sudah hari ini. Bapak itu akan kembali ke desa tempat tinggalnya dengan membawa benjolan sekepal tangan di ubun-ubunnya.
Sejak awak di kumandangkannya pengobatan gratis bagi rakyat miskin, aku sadar itu hanya mimpi. Coba saja kalau ada waktu, jalan-jalan ke RS, iseng-iseng tanya bagaimana pelayanan kesehatan untuk GAKIN, mereka akan berkata “semua gratis”, hanya saja kalau ada obat yang di resepkan tidak masuk daftar askes, otomatis pasien harus mengeluarkan kocek untuk membelinya. Sama saja kan? Tidak ada yang gratis. Syukur-syukur si pasien bisa langsung di beri tindakan, lha kalau masuk dalam daftar tunggu bagaimana? Memang benar pasien-pasien yang masuk dalam daftar tunggu adalah pasien yang nyawanya tidak terancam, tapi dari segi moral rasanya tak pantas kita membiarkan seorang manusia menahan rasa nyeri dan tidak enak di salah satu anggota tubuhnya, entah sampai kapan bisa di beri tindakan selanjutnya.
Sudah saatnya pemerintah harus bersikap jujur, dan masyarakat kita juga harus berusaha menerima kejujuran itu, meski rasanya pahit. Tidak bisa di pungkiri, pelayanan kesehatan butuh profit, tidak etis memang, bagaimana mungkin mengambil profit dari hidup dan mati seseorang? Tapi itulah yang terjadi, realistis sajalah. RS tidak akan berjalan dengan baik tanpa profit dari pelayanannya. Namun yang masyarakat minta adalah, pemerintahan yang bersih, kalau di APBN dana yang di alokasikan untuk kesehatan sekian, ya harus seluruhnya di pergunakan untuk itu, tanpa kebocoran di mana-mana. Dan juga keuntungan dari sektor swasta yang pemerintah rangkul untuk pelayanan kesehatan, benar-benar di berikan untuk rakyat, jangan di pangkas sana sini.
Kalau berbicara masalah pemerintah tak akan ada habisnya, masalah ada di seluruh sektor, dan sudah terlalu banyak ahlinya untuk mengomentari semua itu. Saya hanya seorang awam yang terus terang awalnya tidak peka akan masalah ini, buat saya, kalo saya dan keluarga sehat, maka tak ada yang perlu di pusingkan. Namun kini saya menempatkan diri saya di posisi bapak itu, bagaimana jika saya yang mengalami hal itu? Ataukah keluarga saya, yang mengalami hal itu? Tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa? Dan satu pertanyaan krusial terlontar untuk nuraniku dan nurani anda “ apakah menurut anda seorang anak penyapu jalanan pantas mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama dengan seorang anak pengusaha kaya? “.
Filed under: Refresh your mind

pantas yah pantas tentunya…
hanya saja.. klo di endonesia, susah deh utk bisa spt itu..
pemerintah… pemerintah…
endonesia.. endonesia..
hhhhh….
ingatan saya jadi balik lagi ke minggu lalu, waktu terkapar sakit, iseng liat tayangan oprah di metro TV… bahasannya tentang perlindungan kesehatan di amerika sono. tapi kita ga perlu jauh2 nengok ke negara sana ya? masalah kesehatan dan pelayanannya di negara kita ini memang masih perlu pembenahan yang luar biasa, apalagi kalau dikaitkan dengan jaminan kesehatan yang disini memang belum menjadi prioritas. makanya g heran kalau kemudian pertanyaan akhir, tentang jaminan perlindungan kesehatan yang lintas status kemudian jadi muncul lagi (pertanyaan yang sama juga terlontarkan oleh professor apa – lupa – di acaranya oprah itu). tapi g jadi masalah, karena masalah sebenernya adalah, seberapa besar tingkat kepedulian kita? dan apa yang akan kita lakukan?
*oRiDo : yah inilah negara kita mas, mau bgm lagi? but am always love my country, n belum
kehilangan harapan ma pemerintah kita
*kidungjingga : yah mang bener,n ga perlu jauh2 ke luar negeri, di sekitar kita juga banyak:(
dan apa sumbangsih kita untuk itu
halo mba ikyul…
pertanyaan di paragraf terakhir bisa dijawab pantes, kalo… kita jawab dengan hati nurani kita sebagai mahluk sosial yang punya perasaan dan belas kasih antar sesama, kaya-miskin kan sama2 mahluk ciptaan Allah.
Tapi berhubung banyak kepentingan ; profit RS, kebijakan pemerintah yang gombal, perbedaan kasta antar si kaya dan si miskin sehingga si kaya punya uang banyak buat menghargai semua dengan uangnya, terpaksa musti jawab gak pantes, miskin ya miskin aza, astagfirullah… abis mau gimana lagi, itu lah kenyataan pait… hiks
aku suka miris kalo liat berita bahas kasus-kasus semodel gini
(
cieee.. tauwwa..
spechless deh abang..
ehmm… mencoba memahami..
apa bedanya anak org kaya dgn anak org yg gak punya??? mereka sama2 mahluk ciptaan tuhan tow?So….berhak mendapat pelayanan kesehatan yg baek