Ikyul Inside

me and what inside my heart and mind

“Pria Idaman Lain”

Terasa benar waktu 3 tahun yang kita lalui bersama. Banyak hal yang telah terlewati, rasa rindu kala tak bertemu, berbagi kebahagiaan, teman di saat duka, dan pertengkaran yang begitu sering terjadi antara kita di awal hubungan.

Mungkin sedikit menimbulkan tanya, awal hubungan kok di warnai pertengkaran, karena umumnya awal hubungan itu di warnai hal yang indah-indah. Namun untuk kita berdua sedikit berbeda, karena saat itu hubunganmu yang berlangsung selama kurang lebih 7 tahun baru saja berakhir, sehingga tak mudah buatku yang selalu merasa sebagai orang kedua di hatimu, karena aku tahu persis bagaimana rasa sayangmu untuk dia (sedikit banyaknya perasaanku saat itu mirip tulisanku di blog ini yang berjudul HTS).

Dan saat ini bertambah lagi cobaan untuk kita berdua, baru-baru ini penyakit yang kau derita baru terdeteksi, itu membuatmu harus beristirahat total selama 2 minggu, dan selanjutnya tidak boleh terlalu capek bekerja, juga makananmu yang harus terjaga, dan pengobatan teratur yang kau jalani agar penyakitmu benar-benar tuntas terobati INSHA ALLAH.

Aku tahu benar ini tidak mudah untukmu, apalagi kau tipe orang yang aktif dan tekun dalam pekerjaan. Juga tidak mudah untukku, karena selama ini kau hadir menemani hari-hariku, bukan hanya sekedar memberi motivasi, namun sosokmu selalu ada saat aku butuhkan. Namun tak masalah buatku untuk ”kehilangan “ sosokmu untuk sementara, toh ini juga demi kesembuhanmu.

Mungkin memang benar kata orang bahwa kita akan merasa sesuatu itu begitu berarti saat dia hilang dari hidup kita, dan sakitmu ini membuatku menyadari arti dirimu bagiku,juga perasaan yang kurasakan terhadapmu. Terasa benar perasaan sayangku untukmu saat melihat kau sakit, bukan hanya bersedih, tapi perasaan terluka melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah. Dan rasa syukur yang sangat besar kurasakan pada ALLAH sang pemberi kesembuhan, karena kedaanmu semakin membaik, walaupun harus minum obat secara teratur hingga beberapa bulan mendatang.

Namun ada satu yang mengganjal dari hubungan kita selama ini dan membuatku ragu tentang perasaanku untukmu. Aku seringkali berdialog dengan hatiku mengapa aku belum punya visi untuk menikah denganmu, mengapa aku belum siap untuk menikahimu, padahal orangtua kita masing-masing telah memberi lampu hijau, dan kaupun sering menanyakan apakah aku sudah siap untuk itu, dan aku hanya bisa menjawab bahwa aku belum siap untuk saat ini tanpa mengemukakan alasan yang lebih rinci.

Terus terang ada sosok lain dalam pikiran dan hatiku, sosok samar yang entah akan kutemui atau tidak dalam hidup ini. Sosok impian yang terdoktrin dalam hati dan pikiranku. Yah, aku pernah tersentuh oleh hidayah itu, mengecap indahnya cahaya iman, aku pernah belajar tentang ISLAM. Aku mendamba sosok pria yang mendampingiku adalah pria yang bisa menjadi imam dalam keluarga, yang mampu membimbingku kembali mengecap indahnya iman.

Hingga saat ini keindahan ISLAM itu tetap terpatri di hatiku, namun cahayanya tidak secemerlang dulu lagi, cahayanya redup seiring lalaiku dalam usaha untuk istiqomah, aku beriman, imanku kuyakini dalam hatiku dan kuucapkan dengan lisanku sejak dulu, namun implementasinya dalam amal perbuatankulah yang aku sadari menurun drastis.

Baru kusadari sudut pandangku yang satu ini sangatlah dangkal, selama ini aku menginginkan seorang teman hidup yang mampu membantuku naik kelas dalam keimanan, aku bergantung pada sosok samar untuk kebahagiaan akhiratku. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir sesempit itu? Di kala ajal menjemput, maka tak ada penolong selain amal perbuatan, orang tua saja tak mampu menjadi penolong, apalagi hanya seorang teman hidup. Aku sendirilah yang harus bangkit dan menggapai cahaya iman, aku yang harus berbenah diri. Seorang pendamping hidup hanyalah partner yang saling bahu membahu untuk itu, saling mengingatkan saat berbuat salah, dan tidak terlena akan kegembiraan. Bagaimana mungkin aku bermimpi mendapatkan sosok seperti Ali bin Abi thalib radiyallahu anhu bila aku sendiri bukanlah Fatimah az Zahra?

Dan kuhadirkan lagi sosokmu, yang menemaniku selama ini, atas dasar apa aku menganggapmu tak bisa jadi imam dalam keluarga? Apakah karena kau tak fasih dalam berucap “di hadist ini begini, dalam al qur’an di katakan begini”? Mungkin memang sosokmu tak seperti itu, tapi aku tetap bersyukur, kewajibanmu sebagai seorang muslim kau jalankan, dan larangan ALLAH kau hindarkan. Bahkan aku malu, karena kau mampu berbuat tanpa perlu umbar kata, sedangkan aku yang merasa tahu lebih banyak kadang hanya sebatas kata tanpa perbuatan.

Sosokmu adalah orang yang apa adanya, menunjukkan dirimu yang sesungguhnya tanpa topeng apapun. Aku masih ingat di awal hubungan kita, kau pernah berkata untuk menerima orang yang kau cintai apa adanya, tidak merubahnya menjadi gambaran yang kau inginkan, karena itu sama saja kau mencintai gambaran dirimu sendiri. Jatuh cinta adalah hal yang mudah, mengikuti hukum ketertarikan, “saat kau fokus pada sesuatu atau seseorang maka kau akan merasakan ketertarikan”, namun mempertahankan cinta adalah inti dari sebuah hubungan.

Dan itulah yang kau lakukan selama ini, memahamiku tanpa letih, aku saja kadang heran kok kau bisa tahan pada sosokku? Ibu saja berkata kalau aku keras kepala, merasa argumennya paling benar, sulit menerima kritikan, bahkan kadang menyadari telah melakukan kesalahan tapi tidak meminta maaf. Aku masih ingat benar karena bertengkar dengan ibulah yang membuatku pergi sekolah ke kota lain, dan ini jualah yang membuatku sadar bahwa aku telah begitu banyak berbuat salah pada bunda tercinta. Kalau ibu tahan terhadapku, tingkah lakuku, ya wajarlah, aku anaknya, bahkan satu-satunya anak ibu yang perempuan. Tapi kau? Mungkin bukan hanya alasan cinta yang membuatmu bertahan, ciri pribadimu yang melankolis dan plegmatis, membuatmu mampu menganalisa sesuatu sebelum mengambil tindakan, mengutamakan logika daripada emosi, tidak sepertiku yang bertipe sanguin, menanggapi sesuatu dengan perasaan terlebih dahulu, selalu haus perhatian dan persetujuan atas apa yang kulakukan. Dan tipe kolerisku yang haus akan penghargaan.

Kemampuanmu memahami mebuatku mampu mengurangi sifat jelekku sedikit demi sedikit, caramu menasehati tidak menggurui, saat aku marah dan tersinggung karena hal sepele, kau hanya membiarkanku meluapkan emosi, bahkan kau terkesan diam, tak langsung berkata bahwa aku salah dan tidak boleh seperti ini seperti itu, 1 atau 2 hari berikutnya kala suasana hatiku membaik, barulah kau mendiskusikannya , dan hasilnya aku bisa mencernanya dengan kepala dingin dan menyadari bahwa aku telah berbuat salah. Yah kau membuatku belajar memahami orang lain.

Hari itu kita berbicara dari hati ke hati, melihat kembali waktu yang telah terlewati, dan aku pun berbicara tentang “pria idaman lain” itu kepadamu, kukeluarkan semua perasaan yang mengganjal, kita membicarakannya dengan begitu terbuka. Akhirnya kita berusaha menemukan solusi yang tepat INSHA ALLAH, sama-sama berusaha meningkatkan kualitas diri dan keimanan kita, salah satunya dengan membeli buku dan membahas isinya serta berusaha menerapkannya dalam hidup ini. Kau juga berkata, tidak ada yang instan dalam dunia ini, semua butuh proses, aku dan kamu yang sekarang tak mungkin sama dengan aku dan kamu yang akan datang, karena pengalaman dalam hidup membuat kita bisa berpikir lebih maju, memandang hidup dengan cara yang berbeda. Namun yang terpenting adalah berusaha dan berdoa terlebih dulu, hasil akhirnya di pasrahkan pada ALLAH satu-satunya sang penentu.

Sejak dulu, di setiap doaku aku begitu segan meminta ALLAH untuk menjodohkanku dengan orang ini atau orang itu walapupun aku begitu menginginkan seseorang. Entah kenapa aku merasa terlalu memaksakan kehendak jika meminta seperti itu, karena bagiku yang paling tahu siapa yang terbaik buatku hanyalah ALLAH azza wa jalla. Doa yang senantiasa kupanjatkan adalah agar di berikan pendamping hidup yang mencintai ALLAH di atas segala cinta, yang mampu menjadi imam buat keluarga, saling bahu membahu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat INSHA ALLAH. Dan aku percaya bahwa ALLAH tak akan pernah menbuatku kecewa, siapapun orangnya maka itulah yang terbaik buatku. Semua akan indah pada waktunya, dan hanya ALLAH yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk itu.

Filed under: Let's talk about love

6 Responses

  1. m3dhy mengatakan:

    so sweeeeeet…..ikyul akhirnya ko sadari…(emangnya slama ini tidak ka???)heheheheh…

  2. henceu mengatakan:

    waw… ampe gak bisa komentar apa2… huehuehue
    semoga diberikan jodoh yang diharapkan. amin

  3. mokokoro mengatakan:

    ehmmm…ehmmmm…..kacau nih anak

  4. try mengatakan:

    wow! ouch! hmm..
    saya pernah tes kepribadian, dengan hasil pribadi saya cenderung melankolis plegmatis. Sama dengan pacarmu say…^_^ yah, kurang lebih 11-12 deh heheheehe…

  5. natazya mengatakan:

    ah… liat saja nanti bagaimana ke depannya… yang penting berusaha…

    setiap mencoba dalam hubungan selalu berniat buat jadikan yang terakhir tapi kalau masih belum juga ya mau bilang apa…

    sabar… :D

  6. heper70 mengatakan:

    Aku pernah mengalami seperti itu, ternyata ketika kita memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan ada keraguan diantara kita, itu kejadian masa lalu ku

Leave a Reply