Aku mengenalmu kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu kita tinggal di lantai yang sama di kost PENJERNIHAN. Usiamu 2 tahun lebih tua dariku, dan terus terang aku senang bisa mengenalmu, karena pengetahuan umumku menjadi bertambah saat berdiskusi baik tentang politik dan organisasi politik yang kau geluti, masalah lingkungan hidup, dan juga topik pengembangan diri. Kurang lebih 3 bulan mengenalmu, kau berterus terang bahwa secara rutin engkau berkonsultasi pada psikolog karena stressor yang kau temui dalam hidup membuatmu menjadi manusia yang kehilangan harapan dan kepercayaan pada diri sendiri, dan hal itu bisa membuat kewarasanmu hilang jika di biarkan begitu saja.
Kau juga mulai bercerita alasan kepindahanmu ke Makassar karena ternyata sebelumnya bekerja di Jakarta. Bukan hanya itu, pengalaman hidup yang kau ceritakan padaku membuatku sadar bahwa kehidupan ini keras, kaulah contoh nyata. Yang membuatku kagum adalah perasaan hopeless yang kau rasakan karena cobaan hidup dan rasa kehilangan tidak membuatmu jatuh ke hal-hal negatif, melainkan membuatmu mencari cara untuk menata mental dan lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta.
Walaupun aku akhirnya pindah kost ke PONDOK SEJAHTERA, yang hanya beberapa blok dari tempat kost sebelumnya, kau masih tetap sering mengunjungiku. Hingga suatu peristiwa, tepatnya sebuah cerita yang entah benar kebenarannya atau tidak mengubah segalanya. Saat itu malam minggu, seperti biasa jika tidak ada tugas yang menumpuk aku sempatkan untuk bertemu teman-teman yang lain di kost PENJERNIHAN. Dan malam itu teman-teman yang lain memberitahu untuk menjauhimu dan tidak menerimamu di tempatku, karena mereka mencurigaimu seorang lesbian. Aku terhenyak tapi mencoba obyektif, kutanyakan mengapa mereka bisa berpendapat seperti itu, mereka berkata bahwa kau sering mengintip teman-teman lain saat mereka tidur, dan mereka sempat memergokimu 2 kali. Mereka berkesimpulan bahwa orientasi seksualmu adalah sesama jenis.
Harus kuakui hal itu membuatku tidak bisa lagi memandangmu sama seperti dulu, ada perasaan risih saat berbicara berdua denganmu di tempatku, tidak seperti dulu lagi. Ku pastikan kau menyadari rumor yang berkembang tentang dirimu, dan kesibukanku yang menggunung mungkin membuatmu mengira aku sengaja membentang jarak. Dan akhirnya kau tidak pernah lagi mengunjungiku, kita hanya ber “say hello” jika kebetulan berpapasan di depan kost.
Terus terang aku tipe orang yang tidak pilih-pilih dengan siapa aku bergaul, aku masih ingat benar saat di bangku SMP salah satu temanku seorang “kleptomania” namun kleptomania di sini bukan dalam arti sebenarnya karena jika di tinjau secara harfiah kleptomania adalah penyakit kejiwaan, karena si pelaku tidak punya motif pencurian, tapi senang dengan perasaan tegang sebelum mencuri dan rasa puas setelah pencurian itu, bahkan kadang barang yang di curi adalah hal-hal sepele misalnya sisir. Tapi teman SMP ku memang mencuri dengan motif kebutuhan keuangan, atau mencuri barang-barang yang tidak dia miliki seperti jam tangan, bahkan kutex. Teman-teman yang lain banyak yang menjauhinya, tapi aku tetap bergaul dengannya meskipun harus extra hati-hati dengan kejahilan tangannya.
Memang benar berteman dengan pandai besi membuat kita kadang terkena panasnya dan berteman dengan penjual minyak wangi membuat kita terpercik wanginya, namun aku tidak lantas menjauhi teman-teman yang salah jalan atau bisa dikatakan melenceng dari norma yang berlaku. Bagiku setiap orang punya problem mereka sendiri, punya pemikiran sendiri, tanggung jawab sendiri terhadap hidup mereka, syukur-syukur berteman dengan mereka bisa sedikit mengingatkan, kalau di dengar ya syukur,kalo tidak mau bagaimana lagi. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup yang tak sempurna ini.
Dan hari ini, aku bertemu lagi denganmu, aku datang mencarimu, karena aku tak bisa sendiri saat ini, aku butuh teman yang bisa memberi solusi, bukan sekedar pendengar atau hanya bisa menyalahkan atas kebodohanku. Aku butuh kawan yang mampu berempati bukan hanya bersimpati. Yah aku membutuhkanmu, atas rasa kehilangan yang membuat oleng, atas kekecewaan akan suatu hal yang sangat berarti dalam hidupku, atas rasa tak sanggup bangkit dari kejatuhanku kali ini, atas perasaan hopeless yang kurasakan dan tidak mampu kuceritakan pada orang lain. Akal sehatku tak lagi dominan, di kuasai oleh perasaan, yang membuatku sanggup melakukan hal-hal yang buruk. Dan hari ini, aku berkeluh kesah pada orang yang tepat, padamu.
Kau berkata padaku bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita gapai dalam hidup atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kita,maka lepaskan, relakan. Hidup itu seperti mengandarai sebuah mobil, yang mengendalikan adalah kita dan akal sehat, masalah yang kita hadapi di ibaratkan sebuah lubang di jalan, saat akal sehat kita masih berkuasa maka lubang yang kita hadapi hanyalah menghasilkan guncangan yang kadang membuat tubuh terasa sakit tapi kita harus tetap bertahan dan melaju. Namun saat akal sehat tak ada lagi, lubang itu akan membuat kita takut dan berhenti melaju atau malah membuat mobil terpelanting dan melukai kita. Kau benar kawan, perasaanlah yang menguasai akal sehatku sekarang, dan sungguh aku ingin bangkit lagi. Kau juga berkata untuk menata kembali konsep hidupku, dan sekali lagi kau benar, karena konsep hidup, mimpi, harapan, dan rencana masa depan yang kuyakini dan kujalani saat ini tak bisa kulanjutkan karena kehendak Sang Kuasa. Dan kau akhirnya mengingatkanku lagi untuk tidak mencintai sesuatu atau seseorang di atas kecintaanku terhadap Rabb, yah aku lalai dengan hal itu, terlena dengan mimpi indah dunia, saat Sholat hanya menjadi kewajiban tanpa ruh, saat rasa cinta terhadap Rabb di kalahkan oleh rasa cinta terhadap suatu hal yang fana, maka kita hanyalah menunggu keruntuhan. Biarkan sesuatu yang berharga itu tetap di hatimu, biarkan dia tinggal seperti apa adanya, walaupun kau tidak bisa menggapainya atau membuatnya jadi nyata, relakan dan ikhlaskan saja sebagai suatu hal yang tidak bisa kau gapai dalam hidup ini.
Terima kasih untuk semuanya kawan, mereka bilang “kamu lesbi”, kalau itu memang benar “so what” gitu loeh. Toh hal itu juga belum terbukti kebenarannya. Lagipula Lesbi, homo, waria, juga manusia yang punya eksistensi diri, ingin di akui keberadaannya dan setiap manusia ingin di perlakukan “sebagaimana mereka ingin engkau memperlakukan mereka”. Bahkan kadang-kadang kualitas diri yang mereka punya melebihi orang yang mengaku diri mereka normal tapi dengan mudah men “judge” orang dari luarnya saja. Mengaku bijak tapi dengan menghakimi. Sekali lagi terima kasih kawan, karena membuat perasaanku menjadi lebih baik dan tenang, memang waktu sehari dua hari tidaklah cukup untuk sembuh dari kegagalan dan rasa kehilangan ini, tapi INSHA ALLAH ini adalah awal.
By the way, rencana renang ke PMCC minggu depan jadi kan?:)
Filed under: It's my life

waw…
Dan kau akhirnya mengingatkanku lagi untuk tidak mencintai sesuatu atau seseorang di atas kecintaanku terhadap Rabb, yah aku lalai dengan hal itu, terlena dengan mimpi indah dunia, saat Sholat hanya menjadi kewajiban tanpa ruh, saat rasa cinta terhadap Rabb di kalahkan oleh rasa cinta terhadap suatu hal yang fana, maka kita hanyalah menunggu keruntuhan
^^^^ kata-kata diatas, jadi refleksi berharga, pagi2 baca tulisan mbak ini….
Btw, salam kenal ya… thanks komen di cerpen aku… hihii
Tulisannya enak banget dibaca, mengalir…lir…lir
wah tulisan yg menarik…, enak di bacanya.
pndok sejahtera kayak kos2an di daerah belakang Univ Muhammadiyah Jkt ya…
* henceu : salam kenal juga, n thanx yah
* ochep : hihihi salah, itu kost-kostan di makassar kok ;p
lama gak mampir..
tambah oke tulisanmu, dek..
sampai ketemu di babak final.. *halah*
hehehe..
pa kabar..?
btw..ikyul siapa itu tmn ta yg klepto ? sa penasaran beh…bukan kah dia itu ***** (sensor)padahal memang sa nda tau.heheheheh…
* m3dhy : rahasia say
bagus lah kalau ga menaruh stigma apa apa pada lesbi
plis jangan ada yang namanya homophobia… ga lucu!
eh bu salam kenal juga
Hmm… kirain cerita apaan, tapi asik…
http://kautsarku.wordpress.com/
alhamdulillah akhirnya ad serangkaian kata yg memberi ketenangan dlm pergulatan di hati…
“Kau berkata padaku bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita gapai dalam hidup atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kita,maka lepaskan, relakan”.
“..Dan kau akhirnya mengingatkanku lagi untuk tidak mencintai sesuatu atau seseorang di atas kecintaanku terhadap Rabb..”
tetep semangatt y tuk kembangin tulisannya..