Ikyul Inside

me and what inside my heart and mind

I am sorry, Good bye*

Katakan padaku bagaimana aku bisa bertahan hanya dengan asa? Aku ingin percaya akan mukjizat tapi bisakah jika itu terasa hanya mimpi tanpa kesudahan? Aku ingin percaya mampu memeluk ragamu, namun bisakah saat semua terasa mustahil? Bagaimana kau bisa membuatku yakin hanya dengan kata cinta dan doa? Aku butuh sebentuk wujud, bukan hanya pengharapan dan air mata.

Semua akan indah pada waktunya? Namun bagaimana kalo itu bukan untuk kita? Haruskan aku menggantungkan asa di atas kemungkinan tanpa kepastian?

Akhirnya aku berani berdiri dan berkata good bye…tahukah kamu? Rasanya lega sekali…

Cinta tak harus memiliki? Huh…..Omong kosong itu hanya untuk seorang penipu, selama masih berpijak di atas tanah yang sama, menghirup udara yang sama, memandang langit yang sama apa sih yang tak mungkin? Kata menyerah hanya untuk pengecut yang tak punya keberanian. Berpisah atas nama cinta? Bulshitt… kalimat itu hanya untuk orang-orang munafik.

Percayalah…saat aku meninggalkanmu dengan alasan semua demi kebaikanmu, aku bohong….Hatiku sudah tak sama lagi, cinta ini memang tetap membara untukmu, namun harapanku telah aus di telan waktu dan realita yang ada, aku tak ingin terus bermimpi…..

Sebenarnya sederhana saja, aku hanya ingin bersama pria yang punya integritas, pria yang bisa wujudkan inginnya, bukan hanya umbar kata dan impian.

Tapi tahukah kamu? Hatiku tetap terasa perih, karena aku sungguh berharap untuk bersamamu….

Ah.. sudahlah, setidaknya aku tidak menjadi budak perasaan, logikaku menang hahahaha….. ( jiwaku menangis dalam gelak tawa)

*sepenggal asa masa lalu yang tak berujung

Filed under: Let's talk about love

Waiting List

Aku kembali bertemu bapak itu di depan poli bedah tumor, wajahnya terlihat sedih namun pasrah. Istrinya hanya terdiam sambil memangku anak lelakinya yang berumur 5 tahun. “ Hasilnya bagaimana pak? Kepastian operasinya kapan? “ tanyaku. “ Saya masuk dalam daftar tunggu dik, pihak RS akan memberi kabar jika giliran saya sudah tiba “ jawab bapak itu pelan sambil memandang saya. Upfhh… saya menghela nafas pelan dan membuang pandangan ke lantai, rasanya tak sanggup menatap mata bapak itu.

Bapak itu datang ke kota ini atas rujukan RS daerah. Benjolan di kepalanya perlu di operasi, dan itu tak bisa di lakukan di RS daerah tempat tinggalnya. Bermodal kartu keterangan tak mampu, bapak itu datang ke kota ini, dengan harapan bisa di operasi secara gratis seperti komitmen pemerintah bahwa GAKIN bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Kurang lebih 4 minggu bapak itu bolak balik RS ini, pemeriksaan oleh dokter, pengambilan sampel darah, dan foto rontgen bahkan sudah di lakukan. Besar harapannya bisa di operasi minggu ini, tapi semua pupus sudah hari ini. Bapak itu akan kembali ke desa tempat tinggalnya dengan membawa benjolan sekepal tangan di ubun-ubunnya.

Sejak awak di kumandangkannya pengobatan gratis bagi rakyat miskin, aku sadar itu hanya mimpi. Coba saja kalau ada waktu, jalan-jalan ke RS, iseng-iseng tanya bagaimana pelayanan kesehatan untuk GAKIN, mereka akan berkata “semua gratis”, hanya saja kalau ada obat yang di resepkan tidak masuk daftar askes, otomatis pasien harus mengeluarkan kocek untuk membelinya. Sama saja kan? Tidak ada yang gratis. Syukur-syukur si pasien bisa langsung di beri tindakan, lha kalau masuk dalam daftar tunggu bagaimana? Memang benar pasien-pasien yang masuk dalam daftar tunggu adalah pasien yang nyawanya tidak terancam, tapi dari segi moral rasanya tak pantas kita membiarkan seorang manusia menahan rasa nyeri dan tidak enak di salah satu anggota tubuhnya, entah sampai kapan bisa di beri tindakan selanjutnya.

Sudah saatnya pemerintah harus bersikap jujur, dan masyarakat kita juga harus berusaha menerima kejujuran itu, meski rasanya pahit. Tidak bisa di pungkiri, pelayanan kesehatan butuh profit, tidak etis memang, bagaimana mungkin mengambil profit dari hidup dan mati seseorang? Tapi itulah yang terjadi, realistis sajalah. RS tidak akan berjalan dengan baik tanpa profit dari pelayanannya. Namun yang masyarakat minta adalah, pemerintahan yang bersih, kalau di APBN dana yang di alokasikan untuk kesehatan sekian, ya harus seluruhnya di pergunakan untuk itu, tanpa kebocoran di mana-mana. Dan juga keuntungan dari sektor swasta yang pemerintah rangkul untuk pelayanan kesehatan, benar-benar di berikan untuk rakyat, jangan di pangkas sana sini.

Kalau berbicara masalah pemerintah tak akan ada habisnya, masalah ada di seluruh sektor, dan sudah terlalu banyak ahlinya untuk mengomentari semua itu. Saya hanya seorang awam yang terus terang awalnya tidak peka akan masalah ini, buat saya, kalo saya dan keluarga sehat, maka tak ada yang perlu di pusingkan. Namun kini saya menempatkan diri saya di posisi bapak itu, bagaimana jika saya yang mengalami hal itu? Ataukah keluarga saya, yang mengalami hal itu? Tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa? Dan satu pertanyaan krusial terlontar untuk nuraniku dan nurani anda “ apakah menurut anda seorang anak penyapu jalanan pantas mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama dengan seorang anak pengusaha kaya? “.

Filed under: Refresh your mind

“Pria Idaman Lain”

Terasa benar waktu 3 tahun yang kita lalui bersama. Banyak hal yang telah terlewati, rasa rindu kala tak bertemu, berbagi kebahagiaan, teman di saat duka, dan pertengkaran yang begitu sering terjadi antara kita di awal hubungan.

Mungkin sedikit menimbulkan tanya, awal hubungan kok di warnai pertengkaran, karena umumnya awal hubungan itu di warnai hal yang indah-indah. Namun untuk kita berdua sedikit berbeda, karena saat itu hubunganmu yang berlangsung selama kurang lebih 7 tahun baru saja berakhir, sehingga tak mudah buatku yang selalu merasa sebagai orang kedua di hatimu, karena aku tahu persis bagaimana rasa sayangmu untuk dia (sedikit banyaknya perasaanku saat itu mirip tulisanku di blog ini yang berjudul HTS).

Dan saat ini bertambah lagi cobaan untuk kita berdua, baru-baru ini penyakit yang kau derita baru terdeteksi, itu membuatmu harus beristirahat total selama 2 minggu, dan selanjutnya tidak boleh terlalu capek bekerja, juga makananmu yang harus terjaga, dan pengobatan teratur yang kau jalani agar penyakitmu benar-benar tuntas terobati INSHA ALLAH.

Aku tahu benar ini tidak mudah untukmu, apalagi kau tipe orang yang aktif dan tekun dalam pekerjaan. Juga tidak mudah untukku, karena selama ini kau hadir menemani hari-hariku, bukan hanya sekedar memberi motivasi, namun sosokmu selalu ada saat aku butuhkan. Namun tak masalah buatku untuk ”kehilangan “ sosokmu untuk sementara, toh ini juga demi kesembuhanmu.

Mungkin memang benar kata orang bahwa kita akan merasa sesuatu itu begitu berarti saat dia hilang dari hidup kita, dan sakitmu ini membuatku menyadari arti dirimu bagiku,juga perasaan yang kurasakan terhadapmu. Terasa benar perasaan sayangku untukmu saat melihat kau sakit, bukan hanya bersedih, tapi perasaan terluka melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah. Dan rasa syukur yang sangat besar kurasakan pada ALLAH sang pemberi kesembuhan, karena kedaanmu semakin membaik, walaupun harus minum obat secara teratur hingga beberapa bulan mendatang.

Namun ada satu yang mengganjal dari hubungan kita selama ini dan membuatku ragu tentang perasaanku untukmu. Aku seringkali berdialog dengan hatiku mengapa aku belum punya visi untuk menikah denganmu, mengapa aku belum siap untuk menikahimu, padahal orangtua kita masing-masing telah memberi lampu hijau, dan kaupun sering menanyakan apakah aku sudah siap untuk itu, dan aku hanya bisa menjawab bahwa aku belum siap untuk saat ini tanpa mengemukakan alasan yang lebih rinci.

Terus terang ada sosok lain dalam pikiran dan hatiku, sosok samar yang entah akan kutemui atau tidak dalam hidup ini. Sosok impian yang terdoktrin dalam hati dan pikiranku. Yah, aku pernah tersentuh oleh hidayah itu, mengecap indahnya cahaya iman, aku pernah belajar tentang ISLAM. Aku mendamba sosok pria yang mendampingiku adalah pria yang bisa menjadi imam dalam keluarga, yang mampu membimbingku kembali mengecap indahnya iman.

Hingga saat ini keindahan ISLAM itu tetap terpatri di hatiku, namun cahayanya tidak secemerlang dulu lagi, cahayanya redup seiring lalaiku dalam usaha untuk istiqomah, aku beriman, imanku kuyakini dalam hatiku dan kuucapkan dengan lisanku sejak dulu, namun implementasinya dalam amal perbuatankulah yang aku sadari menurun drastis.

Baru kusadari sudut pandangku yang satu ini sangatlah dangkal, selama ini aku menginginkan seorang teman hidup yang mampu membantuku naik kelas dalam keimanan, aku bergantung pada sosok samar untuk kebahagiaan akhiratku. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir sesempit itu? Di kala ajal menjemput, maka tak ada penolong selain amal perbuatan, orang tua saja tak mampu menjadi penolong, apalagi hanya seorang teman hidup. Aku sendirilah yang harus bangkit dan menggapai cahaya iman, aku yang harus berbenah diri. Seorang pendamping hidup hanyalah partner yang saling bahu membahu untuk itu, saling mengingatkan saat berbuat salah, dan tidak terlena akan kegembiraan. Bagaimana mungkin aku bermimpi mendapatkan sosok seperti Ali bin Abi thalib radiyallahu anhu bila aku sendiri bukanlah Fatimah az Zahra?

Dan kuhadirkan lagi sosokmu, yang menemaniku selama ini, atas dasar apa aku menganggapmu tak bisa jadi imam dalam keluarga? Apakah karena kau tak fasih dalam berucap “di hadist ini begini, dalam al qur’an di katakan begini”? Mungkin memang sosokmu tak seperti itu, tapi aku tetap bersyukur, kewajibanmu sebagai seorang muslim kau jalankan, dan larangan ALLAH kau hindarkan. Bahkan aku malu, karena kau mampu berbuat tanpa perlu umbar kata, sedangkan aku yang merasa tahu lebih banyak kadang hanya sebatas kata tanpa perbuatan.

Sosokmu adalah orang yang apa adanya, menunjukkan dirimu yang sesungguhnya tanpa topeng apapun. Aku masih ingat di awal hubungan kita, kau pernah berkata untuk menerima orang yang kau cintai apa adanya, tidak merubahnya menjadi gambaran yang kau inginkan, karena itu sama saja kau mencintai gambaran dirimu sendiri. Jatuh cinta adalah hal yang mudah, mengikuti hukum ketertarikan, “saat kau fokus pada sesuatu atau seseorang maka kau akan merasakan ketertarikan”, namun mempertahankan cinta adalah inti dari sebuah hubungan.

Dan itulah yang kau lakukan selama ini, memahamiku tanpa letih, aku saja kadang heran kok kau bisa tahan pada sosokku? Ibu saja berkata kalau aku keras kepala, merasa argumennya paling benar, sulit menerima kritikan, bahkan kadang menyadari telah melakukan kesalahan tapi tidak meminta maaf. Aku masih ingat benar karena bertengkar dengan ibulah yang membuatku pergi sekolah ke kota lain, dan ini jualah yang membuatku sadar bahwa aku telah begitu banyak berbuat salah pada bunda tercinta. Kalau ibu tahan terhadapku, tingkah lakuku, ya wajarlah, aku anaknya, bahkan satu-satunya anak ibu yang perempuan. Tapi kau? Mungkin bukan hanya alasan cinta yang membuatmu bertahan, ciri pribadimu yang melankolis dan plegmatis, membuatmu mampu menganalisa sesuatu sebelum mengambil tindakan, mengutamakan logika daripada emosi, tidak sepertiku yang bertipe sanguin, menanggapi sesuatu dengan perasaan terlebih dahulu, selalu haus perhatian dan persetujuan atas apa yang kulakukan. Dan tipe kolerisku yang haus akan penghargaan.

Kemampuanmu memahami mebuatku mampu mengurangi sifat jelekku sedikit demi sedikit, caramu menasehati tidak menggurui, saat aku marah dan tersinggung karena hal sepele, kau hanya membiarkanku meluapkan emosi, bahkan kau terkesan diam, tak langsung berkata bahwa aku salah dan tidak boleh seperti ini seperti itu, 1 atau 2 hari berikutnya kala suasana hatiku membaik, barulah kau mendiskusikannya , dan hasilnya aku bisa mencernanya dengan kepala dingin dan menyadari bahwa aku telah berbuat salah. Yah kau membuatku belajar memahami orang lain.

Hari itu kita berbicara dari hati ke hati, melihat kembali waktu yang telah terlewati, dan aku pun berbicara tentang “pria idaman lain” itu kepadamu, kukeluarkan semua perasaan yang mengganjal, kita membicarakannya dengan begitu terbuka. Akhirnya kita berusaha menemukan solusi yang tepat INSHA ALLAH, sama-sama berusaha meningkatkan kualitas diri dan keimanan kita, salah satunya dengan membeli buku dan membahas isinya serta berusaha menerapkannya dalam hidup ini. Kau juga berkata, tidak ada yang instan dalam dunia ini, semua butuh proses, aku dan kamu yang sekarang tak mungkin sama dengan aku dan kamu yang akan datang, karena pengalaman dalam hidup membuat kita bisa berpikir lebih maju, memandang hidup dengan cara yang berbeda. Namun yang terpenting adalah berusaha dan berdoa terlebih dulu, hasil akhirnya di pasrahkan pada ALLAH satu-satunya sang penentu.

Sejak dulu, di setiap doaku aku begitu segan meminta ALLAH untuk menjodohkanku dengan orang ini atau orang itu walapupun aku begitu menginginkan seseorang. Entah kenapa aku merasa terlalu memaksakan kehendak jika meminta seperti itu, karena bagiku yang paling tahu siapa yang terbaik buatku hanyalah ALLAH azza wa jalla. Doa yang senantiasa kupanjatkan adalah agar di berikan pendamping hidup yang mencintai ALLAH di atas segala cinta, yang mampu menjadi imam buat keluarga, saling bahu membahu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat INSHA ALLAH. Dan aku percaya bahwa ALLAH tak akan pernah menbuatku kecewa, siapapun orangnya maka itulah yang terbaik buatku. Semua akan indah pada waktunya, dan hanya ALLAH yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk itu.

Filed under: Let's talk about love

Mereka bilang “kamu lesbi”

Aku mengenalmu kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu kita tinggal di lantai yang sama di kost PENJERNIHAN. Usiamu 2 tahun lebih tua dariku, dan terus terang aku senang bisa mengenalmu, karena pengetahuan umumku menjadi bertambah saat berdiskusi baik tentang politik dan organisasi politik yang kau geluti, masalah lingkungan hidup, dan juga topik pengembangan diri. Kurang lebih 3 bulan mengenalmu, kau berterus terang bahwa secara rutin engkau berkonsultasi pada psikolog karena stressor yang kau temui dalam hidup membuatmu menjadi manusia yang kehilangan harapan dan kepercayaan pada diri sendiri, dan hal itu bisa membuat kewarasanmu hilang jika di biarkan begitu saja.

Kau juga mulai bercerita alasan kepindahanmu ke Makassar karena ternyata sebelumnya bekerja di Jakarta. Bukan hanya itu, pengalaman hidup yang kau ceritakan padaku membuatku sadar bahwa kehidupan ini keras, kaulah contoh nyata. Yang membuatku kagum adalah perasaan hopeless yang kau rasakan karena cobaan hidup dan rasa kehilangan tidak membuatmu jatuh ke hal-hal negatif, melainkan membuatmu mencari cara untuk menata mental dan lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta.

Walaupun aku akhirnya pindah kost ke PONDOK SEJAHTERA, yang hanya beberapa blok dari tempat kost sebelumnya, kau masih tetap sering mengunjungiku. Hingga suatu peristiwa, tepatnya sebuah cerita yang entah benar kebenarannya atau tidak mengubah segalanya. Saat itu malam minggu, seperti biasa jika tidak ada tugas yang menumpuk aku sempatkan untuk bertemu teman-teman yang lain di kost PENJERNIHAN. Dan malam itu teman-teman yang lain memberitahu untuk menjauhimu dan tidak menerimamu di tempatku, karena mereka mencurigaimu seorang lesbian. Aku terhenyak tapi mencoba obyektif, kutanyakan mengapa mereka bisa berpendapat seperti itu, mereka berkata bahwa kau sering mengintip teman-teman lain saat mereka tidur, dan mereka sempat memergokimu 2 kali. Mereka berkesimpulan bahwa orientasi seksualmu adalah sesama jenis.

Harus kuakui hal itu membuatku tidak bisa lagi memandangmu sama seperti dulu, ada perasaan risih saat berbicara berdua denganmu di tempatku, tidak seperti dulu lagi. Ku pastikan kau menyadari rumor yang berkembang tentang dirimu, dan kesibukanku yang menggunung mungkin membuatmu mengira aku sengaja membentang jarak. Dan akhirnya kau tidak pernah lagi mengunjungiku, kita hanya ber “say hello” jika kebetulan berpapasan di depan kost.

Terus terang aku tipe orang yang tidak pilih-pilih dengan siapa aku bergaul, aku masih ingat benar saat di bangku SMP salah satu temanku seorang “kleptomania” namun kleptomania di sini bukan dalam arti sebenarnya karena jika di tinjau secara harfiah kleptomania adalah penyakit kejiwaan, karena si pelaku tidak punya motif pencurian, tapi senang dengan perasaan tegang sebelum mencuri dan rasa puas setelah pencurian itu, bahkan kadang barang yang di curi adalah hal-hal sepele misalnya sisir. Tapi teman SMP ku memang mencuri dengan motif kebutuhan keuangan, atau mencuri barang-barang yang tidak dia miliki seperti jam tangan, bahkan kutex. Teman-teman yang lain banyak yang menjauhinya, tapi aku tetap bergaul dengannya meskipun harus extra hati-hati dengan kejahilan tangannya.

Memang benar berteman dengan pandai besi membuat kita kadang terkena panasnya dan berteman dengan penjual minyak wangi membuat kita terpercik wanginya, namun aku tidak lantas menjauhi teman-teman yang salah jalan atau bisa dikatakan melenceng dari norma yang berlaku. Bagiku setiap orang punya problem mereka sendiri, punya pemikiran sendiri, tanggung jawab sendiri terhadap hidup mereka, syukur-syukur berteman dengan mereka bisa sedikit mengingatkan, kalau di dengar ya syukur,kalo tidak mau bagaimana lagi. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup yang tak sempurna ini.

Dan hari ini, aku bertemu lagi denganmu, aku datang mencarimu, karena aku tak bisa sendiri saat ini, aku butuh teman yang bisa memberi solusi, bukan sekedar pendengar atau hanya bisa menyalahkan atas kebodohanku. Aku butuh kawan yang mampu berempati bukan hanya bersimpati. Yah aku membutuhkanmu, atas rasa kehilangan yang membuat oleng, atas kekecewaan akan suatu hal yang sangat berarti dalam hidupku, atas rasa tak sanggup bangkit dari kejatuhanku kali ini, atas perasaan hopeless yang kurasakan dan tidak mampu kuceritakan pada orang lain. Akal sehatku tak lagi dominan, di kuasai oleh perasaan, yang membuatku sanggup melakukan hal-hal yang buruk. Dan hari ini, aku berkeluh kesah pada orang yang tepat, padamu.

Kau berkata padaku bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita gapai dalam hidup atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kita,maka lepaskan, relakan. Hidup itu seperti mengandarai sebuah mobil, yang mengendalikan adalah kita dan akal sehat, masalah yang kita hadapi di ibaratkan sebuah lubang di jalan, saat akal sehat kita masih berkuasa maka lubang yang kita hadapi hanyalah menghasilkan guncangan yang kadang membuat tubuh terasa sakit tapi kita harus tetap bertahan dan melaju. Namun saat akal sehat tak ada lagi, lubang itu akan membuat kita takut dan berhenti melaju atau malah membuat mobil terpelanting dan melukai kita. Kau benar kawan, perasaanlah yang menguasai akal sehatku sekarang, dan sungguh aku ingin bangkit lagi. Kau juga berkata untuk menata kembali konsep hidupku, dan sekali lagi kau benar, karena konsep hidup, mimpi, harapan, dan rencana masa depan yang kuyakini dan kujalani saat ini tak bisa kulanjutkan karena kehendak Sang Kuasa. Dan kau akhirnya mengingatkanku lagi untuk tidak mencintai sesuatu atau seseorang di atas kecintaanku terhadap Rabb, yah aku lalai dengan hal itu, terlena dengan mimpi indah dunia, saat Sholat hanya menjadi kewajiban tanpa ruh, saat rasa cinta terhadap Rabb di kalahkan oleh rasa cinta terhadap suatu hal yang fana, maka kita hanyalah menunggu keruntuhan. Biarkan sesuatu yang berharga itu tetap di hatimu, biarkan dia tinggal seperti apa adanya, walaupun kau tidak bisa menggapainya atau membuatnya jadi nyata, relakan dan ikhlaskan saja sebagai suatu hal yang tidak bisa kau gapai dalam hidup ini.

Terima kasih untuk semuanya kawan, mereka bilang “kamu lesbi”, kalau itu memang benar “so what” gitu loeh. Toh hal itu juga belum terbukti kebenarannya. Lagipula Lesbi, homo, waria, juga manusia yang punya eksistensi diri, ingin di akui keberadaannya dan setiap manusia ingin di perlakukan “sebagaimana mereka ingin engkau memperlakukan mereka”. Bahkan kadang-kadang kualitas diri yang mereka punya melebihi orang yang mengaku diri mereka normal tapi dengan mudah men “judge” orang dari luarnya saja. Mengaku bijak tapi dengan menghakimi. Sekali lagi terima kasih kawan, karena membuat perasaanku menjadi lebih baik dan tenang, memang waktu sehari dua hari tidaklah cukup untuk sembuh dari kegagalan dan rasa kehilangan ini, tapi INSHA ALLAH ini adalah awal.

By the way, rencana renang ke PMCC minggu depan jadi kan?:)

Filed under: It's my life

About the writer

Libra girl(1st oct 1982),udah live alone since senior high(miss u mom),kadang bingung nentuin keputusan,tp kalo dah ngambil keputusan wuih,keukeh hehehe..kadang trlalu nyantai hadapi hidup,sakit maag,bondeng,maniezt dikit.capcay,mie goreng,duren,blaccurrent drink,red n black its my favourite colours,.JUVE REBORN,ewako PSM, ROSSI still the best,.. trying,pray, n be patience:)

Ikyul is reading

n2462022

YM status

RSS My friendster

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Previously on Ikyul

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930