Zahra, nama temanku, bukan hanya sekedar teman, tapi juga seperti sister buatku, mungkin karena aku hanya memiliki 2 saudara laki-laki sehingga aku demikian sayangnya dengan zahra, padahal kami seumuran. Dia juga sudah tahu kelemahanku, yah aku sangat menyayanginya, pertolongan apapun yang di butuhkannya sedapat mungkin kuusahakan, cukup dengan senyum memelasnya hatiku akan luluh.
Kami belajar bersama, kemana-mana bersama,bahkan teman-teman menjuluki kami suami istri, soulmate dan masih banyak lagi julukan yang diberikan pada kami, tapi jangan di interpretasikan lain ya, kami berdua normal, bukan pasangan lesbian kok:).
Zahra sangat cantik, dan juga sangat ketat memberi batasan hijab dalam pergaulan maupun menurut aurat.Aku sendiri kagum padanya,dan salah satu alasan aku sangat menyayanginya adalah karena hal itu.
Karena pemahaman agamanya jualah yang membuatnya bimbang saat dia mulai menyukai seorang pria.Abdul nama pria itu,masih memiliki hubungan keluarga dengannya,walaupun menyukai abdul, dia tidak pernah berduaan apalagi menyingkirkan hijab dalam pergaulan dan penampilannya.Zahra bimbang,dia tidak ingin berlama-lama dalam hubungan yang seperti itu,takut nantinya akan seperti kebanyakan pasangan muda-mudi yang berpacaran dan bergaul seperti di zaman jahiliyah,apalagi dia hanya tinggal bersama sepupu perempuannya dan seorang kakak lelakinya,jauh dari orang tua.
Saat abdul menawarinya untuk menikah,dia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tuanya,walaupun ayahnya memberi restu,tapi ibunya tidak setuju kalau zahra menikah sebelum menyelesaikan pendidikannya.
Akhirnya keinginan untuk menikah coba di lupakannya.Namun seiring berjalannya waktu dia merasa bahwa dirinya tak ubahnya seperti pasangan-pasangan lain yang sedang di mabuk asmara,walaupun di mataku tidak ada yang berubah darinya,dia tetap zahra yang menjaga hijabnya,kalaupun abdul menjemputnya sepulang kuliah,aku pasti ikut bersama mereka.Tapi siapa yang bisa menjamin kesucian hati? Hanya yang empunya hatilah yang paling memahami siapa diri mereka sebenarnya,dan itulah yang di rasakan zahra,dia merasa kesucian hatinya telah ternoda.Dan akhirnya dia berani mengemukakan pendapatnya untuk menikah tapi tanpa sepengetahuan ibunya dan orang banyak.
Dan aku,orang terdekatnya di beri tahu seminggu sebelum pernikahan itu.Tentu saja aku kaget,ku tanyakan apakah dia sudah benar-benar yakin dengan keputusan ini?Apakah abdul benar-benar bisa di jadikan seseorang yang pantas untuk menemani hidupnya di dunia ini INSHA ALLAH? Karena selama ini,aku menilai zahra terlalu bernilai untuk seorang abdul,yang katanya baru insyaf dari pergaulan bobroknya,dan mencoba untuk lebih baik sekarang ini.Aku pernah mengemukakan opini itu pada zahra,tapi dengan bijak dia berkata bahwa seseorang pantas untuk di beri dukungan,apalagi saat dia mengaku telah meninggalkan perbuatannya yang buruk di masa lalu.Apalagi kakak lelaki zahra yang juga teman abdul,mengatakan hal-hal yang baik tentang abdul.Aku hanya bisa mendoakan saja yang terbaik,terlebih lagi alasan lainnya adalah karena Abdul masih keluarga dekat yang notabene menurutnya akan lebih menyayangi dan melindunginya di bandingkan pria lain.
Pernikahan itupun terlaksana di sebuah rumah milik keluarga jauh zahra di kota ini dan hanya di hadiri sekitar 15 orang,kakak lelakinya, aku satu-satunya teman,penghulu,saksi,dan keluarga jauhnya yang berada di kota ini.Ayah zahra yang berada di kota lain hanya mendengar lewat handphone,ibunya dan saudara perempuannya sama sekali tidak tahu menahu dengan peristiwa ini.
Bahkan aku lah yang bersikeras mencarikan kebaya untuknya,karena awalnya dia berkata itu tidak perlu,karena dia akan mengenakan pakaian yang sering dipakainya saat ke pesta pernikahan teman kami,tapi bagiku ini tetaplah sebuah moment yang sangat indah bagi seorang perempuan,saat mendandaninya aku mencoba tak menangis,karena bagiku dia layak untuk mendapatkan lebih dari ini,di dampingi oleh ibu dan ayahnya,teman-teman kami yang lain,orang-orang yang menyayanginya,dan akhirnya setelah ijab qabul di ruang tengah,zahra memelukku dan kami menangis bersama,”sister, i wish all the best for you”,barakallah, itulah doaku sis,dalam hati dengan seluruh perasaan sayangku untukmu.
Dan 3 bulan kemudian kami kembali bersama,aku,zahra dan kakak lelakinya,tp kali ini di dalam sebuah ruangan yang sedapat mungkin di hindari oleh pasutri,ruangan sidang pengadilan agama.Zahra menggugat cerai suaminya abdul,karena tertangkap basah sedang berselingkuh di sebuah kamar hotel.Abdul memang tidak pernah meninggalkan kebobrokan pergaulannya,mungkin juga dia mencoba tapi tidak berhasil,entahlah.Yang aku rasakan hanyalah perasaan iba sekaligus bangga pada zahra,my beloved sister,iba karena aku merasa dia pantas mendapatkan lelaki terbaik di dunia ini,bangga karena dia dengan teguh memutuskan langkah apa yang harus dia ambil saat ini,buatnya perzinahan tidak dapat di beri toleransi,dan dia tidak merasa malu menyandang status janda di usianya yang masih sangat muda,23 tahun.Baginya jalan masih panjang,masih ada banyak hal-hal indah ataupun masalah yang lebih pelik yang natinya akan di jumpainya,dan apa yang di alaminya saat ini tidak akan menjadi kan halangan buatnya untuk mencari kebahagiaan lain nantinya INSHA ALLAH.
Aku tak tahu siapa yang bisa di kambing hitamkan dalam masalah ini,apakah abdul yang katanya mencoba menjadi lebih baik namun tak berhasil,zahra yang mempunyai niat yang baik dalam mengambil keputusan untuk menikah tapi kurang mempertimbangkan hal yang lain seperti restu ibunya,ataukah ayahnya yang memberi izin tanpa memikirkan baik dan buruknya hal itu,atau aku sahabatnya yang tidak bersikeras dengan pendapatku untuk menunda pernikahannya saat itu.
Atau mungkin benar kata ustadz yang kami temui bahwa walaupun pernikahan zahra saat itu sah di mata ALLAH dan di mata hukum,dengan restu ayahnya, namun tetap tanpa restu ibunda yang melahirkannya,dan juga tanpa ada syiar ke khalayak ramai,sehingga abdul merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dirinya karena sepengetahuan orang lain dia masih lajang.
Yah kira-kira sperti itulah,pernikahan bukan hanya hubungan antar pasangan suami istri,tapi juga hubungan antara pasutri dengan keluarganya,masyarakat di sekitarnya,dan bukan hanya bermodalkan niat yang baik.
Dan buatku sendiri,i hope will marry with the right man,on the right time,and in the right place INSHA ALLAH:)
Filed under: It's my life

comments